Kamis, 21 Juli 2011

Definisi Elit Politik


Setiap orang bisa jadi elit, supaya pembahasannya terfokus, yang dimaksud elit politik disini adalah orang-orang yang tergabung dalam partai politik. Menurut beberapa pakar diantaranya adalah:
-          Roberto Pareto, mengemukakan pandangannya mengenai elit politik yaitu “governing elite (elit yang memerintah). Lebih lanjut Pareto mengemukakan bahwa yang termasuk katagori elit yang memerintah antara lain adalah pimpinan suatu lembaga, organisasi, atau pimpinan institusi Negara” (S.P. Varma ,Modern Political Theory,1967).
Jadi dari penjelasan di atas jelaslah dalam konteks Indonesia, elit politik yang termasuk kategori governing elite-nya Pareto adalah Abdurrahman Wahid, Amin Rais, Megawati dan Akbar Tanjung. Perilaku merekalah yang selama ini paling dominan mempengaruhi pergolakan politik di tanah air. Jika yang terjadi sampai hari ini bangsa ini sulit keluar dari krisis yang makin multidimensional maka secara struktural dan moral kenegaraan, merekalah yang pertama harus mempertanggungjawabkannya. Tapi dalam pelaksanaannya terjadi krisis multidimensional yang pada awal terpilihnya empat elit politik sebagaimana yang disebutkan diatas, peluang dan modal untuk pulih itu nampak didepan mata. Peluang dan modal tersebut antara lain : menguatnya nilai tukar rupiah, modal legitimasi yang kuat dari rakyat, dan konsentrasi publik yang kuat untuk bersama - sama menyelesaikan masalah bangsa. Peluang dan modal untuk pulih tersebut tidak dikelola secara cerdas dan holistik oleh elit politik di republik ini. Dan pada saat yang sama justru elit politik gemar menciptakan dan mempertajam konflik antar mereka sendiri bahkan kemudian mengorbankan massanya untuk turut serta membawa konflik elit ke tingkat konflik massa. Karenanya kerja bersama - sama untuk keluar dari krisis nampak sulit terjadi,yang kemudian nampak terjadi adalah sebuah kemarahan.


            Robert Frost pernah mengemukakan bahwa sesuatu yang kita sembunyikan membuat
 kita lemah, sampai kita menemukan bahwa sesuatu itu adalah diri kita sendiri. Data empiris menunjukkan hampir setiap hari tak terbilang jumlahnya manajer dan profesional yang cemerlang menunjukkan kebolehan mereka sebelum diterima bekerja, serta pemimpin yang cemerlang, ternyata yang melekat dan nampak pada diri mereka sesungguhnya adalah hati. Inilah yang mengiringi kesuksesan mereka. Komentar yang menunjukkan pentingnya hati dan mungkin lebih sedikit puitis, yakni komentar psikolog dari Yale, Robert Stenberg, ahli dalam bidang succesful intelligence, menyatakan Bila IQ yang berkuasa, ini karena kita membiarkannya berbuat demikian. Dan bila kita membiarkannya berkuasa, kita telah memilih penguasa yang buruk. (Robert J.Sternberg, Succesful Intelligence,1996).
Fenomena tingkah laku elit politik yang dijelaskan pada awal tulisan ini yakni ketidakmampuan mengelola peluang dan mengelola modal legitimasi untuk pulih dari krisis, gemar menciptakan dan mempertajam konflik, sulitnya kerja sama dan meluapnya kemarahan adalah fenomena yang menunjukkan rendahnya kecerdasan emosional elit politik kita. Untuk membuktikan analisis tersebut bisa dicermati uraian dibawah ini.
Setidaknya ada empat poin yang bisa menjadi alat ukur rendahnya kecerdasan emosional elit politik kita. Alat ukur tersebut adalah Kesadaran emosi (emotional literacy), Kebugaran emosi (emotional fitness) , Kedalaman emosi (emotional dept), dan Alkimia emosi (emotional alchemy). Empat alat ukur tersebut diambil dari empat batu penjuru EQ eksekutive-nya Robert K Cooper dan Ayman Sawaf (1997).
Dalam kesadaran emosi (emotional literacy) terdapat ukuran tingkah laku yang menjadi indikasi seseorang yang memiliki kesadaran emosi yang tinggi. Indikasi tingkah laku tersebut antara lain adalah rasa tanggungjawab dan kejujuran. Dalam kebugaran emosi (emotional fitness) terdapat ukuran tingkah laku yang menjadi indikasi seseorang memiliki kebugaran emosi yang tinggi yakni dapat dipercaya, mau mendengar, mampu mengelola konflik dan mengatasi kekecewaan dengan cara yang paling konstruktif. Dalam kedalaman emosi (emotional dept) ada ketulusan, kerja sama, dan dalam alkimia emosi (emotional alchemy) ada kepekaan akan adanya kemungkinan - kemungkinan solusi yang masih tersembunyi.


Tingkah laku elit politik yang mengabaikan peluang dan modal legitimasi untuk pulih dari krisis bisa dikategorikan sebagai tingkah laku yang menunjukkan rendahnya rasa tanggung jawab (kesadaran emosi yang rendah). Gemar menciptakan dan mempertajam konflik menunjukkan rendahnya kebugaran emosi elit politik. Sebab kebugaran emosi yang tinggi ditunjukkan dengan adanya kemampuan mengelola konflik dan mengatasi kekecewaan dengan cara yang paling konstruktif. Tidak mau kerja sama yang dikarenakan tiadanya ketulusan untuk duduk berdampingan menunjukkan rendahnya kedalaman emosi elit politik kita. Tiadanya kepekaan akan adanya kemungkinan - kemungkinan solusi yang ditunjukkan dengan sikap frustasi dan marah menunjukkan rendahnya alkimia emosi elit politik kita.
Berkaitan dengan marah ini barangkali kita perlu mengingat George Washington yang berhasil dalam setiap usahanya ternyata karena kemampuannya mengelola energi emosi, khususnya sifat pemarah dan mudah naik darahnya. Kemampuan mengelola energi emosi tersebut George Washington tunjukkan dengan meminta maaf kepada siapa saja yang terkena akibatnya, dan mengambil tindakan-tindakan untuk memperbaiki ketidakenakan yang telah diperbuatnya (Lihat Parikh,J.D.et al, Institution: The New Frontier of Management,1994). Ternyata meminta maaf dan mengambil tindakan - tindakan untuk memperbaiki ketidakenakan yang telah diperbuat juga tidak nampak pada tingkah laku elit politik kita.
Uraian diatas menunjukkan bahwa tingkah laku elit politik kita memang menunjukkan rendahnya EQ yang dimilikinya.

1.    Elit Politik Era Revolusi Fisik (1945-1949)

Beberapa bulan setelah diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, pemerintah mengeluarkan maklumat negara yang mengubah secara signifikan konstelasi elit ketika itu. Maklumat pertama adalah maklumat No X tanggal 16 Oktober 1945 tentang pembentukan Komite Nasional (KNIP) sebagai lembaga legislatif sementara sebelum DPR MPR yang sesuai konstitusi belum terbentuk dan maklumat kedua tertanggal 3 November 1945 tentang pembentukan partai-partai dan kehidupan berdemokrasi.


Para aktivis pro kemerdekaan sebagaimana disebutkan diatas memiliki kesempatan berkarier di sektor sipil pada lembaga yang menjadi konsekuensi logis dikeluarkannya maklumat-maklumat tersebut. Jalur perjuangan mereka adalah melalui partai politik, birokrasi, menteri, kabinet serta Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Mereka mengisi cabang pertama yang pada umumnya berfokus bagaimana berjuang di jalur diplomasi melawan keinginan belanda untuk kembali berkuasa di Indonesia, setelah Jepang menyerah pada sekutu. Medan mereka adalah meja perundingan. Sementara cabang kedua mulai terbentuknya elit baru yaitu kalangan militer. Meskipun mereka elit yang belum pernah ada dalam kancah politik Indonesia sebelumnya, peranan mereka di fase ini begitu signifikan. Sektor karier mereka adalah medan pertempuran.Bagaimana memastikan kekuatan Jepang hengkang dari republik, dan Belanda tidak bisa sedikitpun menjejak kembali ke bumi pertiwi. Jenderal Sudirman, Urip Sumoharjo, Nasution, TB Simatupang, sekedar menyebut nama dari kelompok ini. Mereka berlatar pendidikan militer yang berbeda beda. Ada yang terkader melalui akademi militer Belanda, ada yang melalui PETA pada masa pendudukan Jepang, atau sekedar laskar-laskar perjuangan rakyat. Tapi mereka bersatu dalam satu peperangan melawan penjajah yang ingin kembali.

Pada fase ini nuansa konflik yang lebih luas mulai satu demi satu merasuk dalam aktivitas politik elit Indonesia. Di sektor sipil cara berfikir kepartaian yang cenderung mengedepankan kepentingan kelompok mulai mendominasi. Hanya karena perbebedaan pandangan dalam menyelesaikan masalah politik atau diplomasi dengan pihak Belanda, kabinet bisa bubar, dan mandat harus segera dikembalikan oleh PM kepada Presiden. Tercatat pada fasa ini (1945-1949) terjadi pegantian kabinet sebanyak delapan kali, “hanya” karena hal sepele yaitu ketidaksepakatan partai partai elemen pemerintah. Ini berarti rata rata satu kabinet hanya berusia sepuluh bulan.

Namun meskipun demikian, perpolitikan Indonesia pada fase ini memiliki faktor Sukarno-Hatta yang begitu kuat, sehingga setiap kali gonjang ganjing politik yang mengakibatkan bubarnya kabinet, mandat tetap bisa dikembalikan kepada mereka tanpa kisruh berkepanjangan, dan mandat itu bisa diberikan kembali ke kabinet selanjutnya. Faktor yang tidak

 pernah terulang, setidaknya sampai saat sekarang, adalah wibawa kepala negara, presiden dan wakil presiden begitu melembaga, dan membuat variabel politik lain akan segera ikut dalam determinan kepala negara bila terjadi instabilitas politik. Sejarah kerap timpang kita pelajari. Yang kita tahu, waktu partai partai silih berganti berkuasa hanya karena kekuasaan padahal bukan semata karena hal itu. Memang dinamika sejarah yang membuat itu terjadi sementara nilai etik, betapa kuatnya lembaga presiden dalam menjadi penengah setiap konflik politik, nilai moral mengembalikan mandat ketika pemerintahan tidak lagi diakui oleh partai-partai pendukung tidak pernah kita pelajari dengan baik

Sebagaimana dikemukakan di atas, fasa ini juga mula bertumbuhnya peranan militer sebagai kekuatan tersendiri dalam kawah candradimuka kekuasaan di tingkat elit Indonesia. Diluar dugaan sebelumnya, peranan militer mulai menguat drastis seiring popularitasnya berjuang bersama rakyat. Doktrin militer rakyat muncul pada fase ini. Militer tertrasendesikan sebagai pejuang rakyat. Bahkan, Panglima Sudirman memiliki wibawa pada maqam-nya tersendiri pula. Tidak menerima ajakan presiden untuk ikut bersama-sama ke pengasingan ketika Ibu Kota RI di Yogyakarta diserang dalam Agresi Militer Belanda, padahal kita tahu, presiden adalah panglima tertinggi, dan perintahnya adalah komando.Namun, justru Sudirman mengindahkan komando itu dalam keadaan menderita penyakit tbc kritis. Beliau lebih memilih berjuang bersama rakyat. Ini setidaknya memberikan gambaran bagi militer, khususnya angkatan darat, bahwa pada tubuhnya tertanam kekuasaan tersendiri yang ia bawa sejak kelahirannya sebagai tentara Indonesia.

Namun demikian, tetap saja kepatuhan militer pada supremasi sipil pada fase ini masih terpelihara. Semua aktivitas ketentaraan tetap berada di bawah koordinasi kementrian pertahanan yang selalu dipimpin oleh otoritas sipil.

2.    Elit Politik Orde Lama (1949-1966)
Pada periode ini elit politik kita mulai mengalami fragmentasi secara kepartaian. Pemilu 1955 memberikan argumen sederhana bagamana fragmentasi elit itu terbentuk. PNI, NU, Masyumi, PKI, PSI, muncul sebagai partai besar pemenang pemilu. Konstelasi ini

 berkonsekuensi logis pada “konstelasi perilaku” elit ketika itu. Mulai terjadi perbedaan dalam melihat segala sesuatu. Bila pada periode sebelumnya fragmentasi kepartaian terjadi belum mendapatkan legitimasi rakyat, maka di era ini elit seolah lebih percaya diri dengan hasil pemilu yang mereka raih. Dinamika politik elit begitu hebat. Tercatat sidang sidang maraton dalam merumuskan konstitusi baru menggambarkan konstelasi politik sekaligus cakrawala intelektual yang menangkupi elit politik ketika itu.
Kualitas elit politik kala itu begitu mudah kita lacak dalam risalah sidang Konstituante. Betapa satu sama lain, meskipun mereka berbeda pandang, keyakinan, ide, dan gagasan, tetapi perdebatan mereka tetap sesuatu abstraksi yang bernas. Bagaimana seorang HAMKA menguraikan sejarah umat Islam sebagai argumennya menjadikan Islam sebagai dasar negara di sidang konstituante, dengan rujukan rujukan studi yang bertangungjawab. Namun dengan cekatan pula AA Maramis membantah HAMKA, dengan argumen ilmiah yang lain. Lain pula dengan Natsir (Masyumi) dan IJ Kasimo (Partai Katolik) yang bisa dipastikan selalu bersitegang di setiap sidang parlemen, namun selalu bertukar kirim makalah untuk saling mengkritik ide. Sementara hari ini, perilaku elit kita lihatlah, berkirim pesan singkat, hanya untuk mendengar satu demi satu proyek mana yang bisa mereka calokan lewat tangannya di legislatif maupun eksekutif.
Namun sayang, sejarah memang kerap menyimpan paradoksnya tersendiri, yang kita selalu dibuat tidak mengerti. Nuansa politik sipil yang begitu dinamis dipahami secara berbeda oleh Sukarno di satu sisi –yang sudah sekian lama merasa kekuasaannya dilucuti oleh politisi — dan militer di sisi lain, yang merasa berjasa besar dalam menjaga keutuhan Republik. Militer mencoba masuk sebagai “elit politik” baru dalam pertarungan politik dengan memberikan sokongan penuh pada Sukarno untuk membubarkan parlemen dan Konstituante lewat dekrit 5 Juli 1959. Dinamika politik yang dalam studi Buyung Nasution pada desertasi doktoralnya memiliki kesimpulan bahwa para elit politik ketika itu sudah hampir menuju titik temu yang demokratis antara kalangan Islam dan nasionalis dalam merumuskan dasar negara, justru dibubarkan secara otoriter oleh Sukarno dan Militer ketika DPR dan Konstituante sedang menjalani masa reses menjelang pengesahan bentuk kesepakatan mereka di sidang berikutnya. Namun yang kita terima di bangku bangku sekolah, bahwa periode ini terjadi “pelanggaran sungguh-sungguh” terhadap konstitusi, dan harus segera kembali ke UUD 1945.

Dinamika politik yang hebat, pelajaran berharga dari debat wacana publik ketika itu tidak pernah diajarkan pada kitaanak-anak muda. Bahkan seolah olah, Sukarno menjadi pahlawan yang mengembalikan Indonesia ke UUD 1945, meskipun sesungguhnya ia mulai menunjukkan arah kekuasaan otoriter dan bertangan besi, karena terminologi dekrit itu sendiri justru berlawanan dengan UUD 1945.
Munculnya tentara sebagai pemain yang lebih dominan begitu mempengaruhi kesetimbangan politik di republik yang baru seumur jagung, apalagi ia berjalin kelindan dengan hasrat politik Sukarno. Debat Sukarno-Hatta tentang revolusi mengkristal di fase ini. Hatta yang meyakini bahwa revolusi “sudah usai”, dan harus diisi dengan penataan kehidupan bernegara dengan membina aparatur, merapikan tata pemerintahan baik pusat maupun daerah. Pembangunan ekonomi rakyat dinyatakan “kalah” dalam episode sejarah kita oleh Sukarno yang meyakini bahwa revolusi “baru dimulai” dengan Demokrasi Terpimpin dan ide sinkretis NASAKOM. Hatta pun akhirnya memilih mundur. Semakin goyahlah kesetimbangan politik ketika itu. Sukarno tidak memiliki lagi pengimbang kekuasaan secara psikologis yang dimiliki oleh Hatta. Tidak ada lagi debat bernas di level makro melalui para elit kita. Yang ada hanya berlindung, membebek, atau berebut pengaruh sebanyak mungkin dari kekuasaan Sukarno. Personalisasi politiklah yang kemudian terjadi. Berdendanglah Sukarno dengan “Paduka Yang Mulia”, “Panglima Tertinggi”, “Pemimpin Besar Revolusi” dan segala embel-embel lain pada dirinya. Elit tidak lagi bergerak berdasarkan kerakyatan yang dijunjung tinggi. Daulat rakyat telah menjadi daulat tuanku. Feodalisme politik yang ditentang oleh Sukarno ketika sama sama berjuang menentang kolonialiusme dulu, yang dianggap musuh utama bangsa ini, justru dipraktekkan dengan lebih vulgar melalui demokrasi terpimpinnya.

3.    Elit Politik Orde Baru (1966-1998)

Kekuasaan yang ditumpuk oleh Sukarno dengan keyakinan revolusi “baru mulai” nya itu akhirnya mengalami titik patah. PKI dijadikan tumbal semua kebobrokan dan kemerosotan ekonomi dan politik.

Lewat kudeta lunak (soft coupt) Suharto maju ke puncak kekuasaan menjadi Presiden kedua RI sehingga pertarungan segitiga antara Sukarno, PKI, AD berakhir sudah.
Dengan AD sebagai pemenangnya.
George Elson, Peneliti masalah masalah Indonesia, asal Australia, dalam biografi politik tentang Suharto menyatakan sejarah Indonesia kembali berputar mundur ke belakang (back cycling) dengan naiknya Suharto menjadi presiden. Seorang jendral yang “biasa-biasa” saja, yang tidak menonjol diantara rekan-rekannya menjadi Presiden RI. Seorang Jendral yang tidak pernah mendapat tugas luar negeri, kesehariannya menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa utama, dan tak pernah berbahasa asing, tiba tiba harus menggantikan pemimpin besar, proklamator, yang pemikirannya melintas batas para pemikir dunia, yang jangankan bahasa sehari harinya, makiannya pun dalam bahasa bahasa asing.
Dan yang terjadi kemudian adalah di sepanjang kekuasannya selama 32 tahun Suharto kembali meneladani pendahulu-nya,mempersonalisasikan politik negara dalam dirinya. Ia mengandalkan tentara sebagai bodygard politik dan pembangunan. Partai partai politik ia berangus, dan Golkar diciptakan sebagai kendraan utama. Stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi menjadi sabda.
Maka perlahan namun pasti, perubahan di tingkat elit politik terjadi seiring berjalan waktu. Konstelasi elit politik kita mengalami pergantian input. Tentara di lapis pertama, aktivis-aktivis yang membantu menggulingkan sukarno pada lapis kedua, dan pengusaha di lapis ketiga. Debat debat bernas yang menghiasi politik kita pada fase sebelumnya bak hilang di telan bumi. Kebijakan ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan keagamaan diserahkan kepada kaum teknokrat. Sementara elit politik hanya sebagai stempel karet. Golkar diplot sebagai partai pemerintah pada judul utama, sementara PDI dan PPP sebagai partai pelengkap yang melengkapi laku politik Golkar dan tentara pada catatan kaki narasi politik Indonesia. Apa yang terjadi dengan perilaku elit di fasa ini adalah mereka menjadi sangat jauh dari keluh kesah rakyat. Mereka merasa menciptakan keamanan, tapi sesungguhnya menyemai ketakutan. Mereka merasa menciptakan pertumbuhan ekonomi dramatis, padahal hanya kebijakan yang memperkaya segelintir orang, dan dibangun atas utang. Alih alih merubah keluh kesah rakyat menjadi

 diskursus bernas yang diejawantahkan dalam kebijakan guna mencapai kehidupan lebih baik massa rakyat, mereka justru memahatkan dalam dirinya pemerintah yang gagal memerintah. Dan kekuasaan yang mereka rasa kokoh, selama 32 tahun, runtuh dalam beberapa hari diguncang oleh demontrasi mahasiswa bersama rakyat.

4.    Elit Politik Sekarang

Keadaaan elit politik saat ini sangat memprihatinkan, dimana jikalau ada pada saat ini partai atau politikus yang mengklaim bahwa sangat peduli dengan masyarakat kecil akan tetapi mereka bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi di masyarakat grassrot yang sesungguhnya berarti bukanlah partai yang cocok bagi wong cilik partai tersebut lebih pas dikatakan partainya para petualang politik yang sebenarnya dia mencari sesuatu dengan berpolitik.
Saling serang yang dilakukan para elit politik dalam berkampanye merupakan sesuatu yang biasa terjadi dalam dunia politik, tapi sebenarnya masyarakat tidak butuh itu pada saat ini, yang dbutuhkan masyarakat adalah tipe tokoh pengayom yang bisa memberikan keteduhan dalam suasana sepanas apapun serta butuh sosok Negarawan yang peduli dengan nasib rakyat yang tidak anti kritik bersikap tegas terhadap hal-hal yang akan membawa kesengsaraan rakyat seperti korupsi dan kolusi.

B.  Hubungan Elit Politik dengan Masyarakat
Seperti definisi diatas dimana menjelaskan tentang elit politik yang terdiri dari orang-orang yang tergabung dalam partai politik. Jelas hubungannya dengan masyarakat luas karena dalam duatu elit politik tersebut untuk mewujudkan keinginan mereka, mereka membutuhkan masyarakat untuk naik dam mencapai tujuannya tersebut.
Beberapa mekanisme hubungan elit politik dengan masyarakat antara lain:
·         Dalam pemilu, elit politik membutuhkan suara dari masyarakat
·         Elit politik harus mengetahui dan memperhatikan kebutuhan, keinginan, dan preferensi masyarakat
·         Elit politik seharusnya bisa menawarkan jawaban dari masalah masyarakat

·         Dalam kompetisi antar elit, dibutuhkan responsiveness
·         Elit politik perlu pengelolaan yang responsive dari masyarakat untuk meningkatkan kinerjanya
·         Pengelolaan hubungan dengan masyarakat juga penting bagi survival dan keberlanjutan elit politik
·         Semua organisasi elit politik berusaha untuk mengontrol dan menstabilisasi lingkungan masyaraat yang dihadapinya
·         Yang paling penting bagi elit politik adalah konstituennya
·         Diperlukannya komunikasi dua arah dan konsisten yang merupakan stabilisator antara elit dan masyarakat.

C.  Konflik kalangan Elit Politik dan Pengaruhnya Bagi Masyarakat
            Elit politik biasanya lebih mudah terfokus pada hal-hal yang kecil dalam memperebukan kekuasaan disbanding dengan agenda besar bangsa seperti penyelesaian krisis multi dimensi bangsa. Sebenarnya konflik elit politik tidak selamanya bersisi negative sepanjang ia terlembaga dan disepakati bersama.
            Menurut Jary, konflik dipahami sebagai pertentangan yang jelas diantara individu atau kelompok-kelompok dalam masyarakat, atau diantara Negara dan bangsa (Jary and Jary, 1991). Pada masyarakat manapun, konflik mungkin muncul dari dua orang atau lebih, gerakan-gerakan social, partai politik, dan kolektivitas agama, etnik, ataupun ras. Selain itu konflik juga terdapat dalam konteks antara masyarakat dan Negara.
            Dalam kajian sosiologi, konflik elit politik jelas berhubungan dengan masyarakat. Pembagian elit dan massa merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan didalam suatu masyarakat yang kompleks. Kemudian, aspirasi para democrat radikal mengenai rakyat secara keseluruhan yang diyakini dapat berkuasa tidaklah sesuai kenyataannya. Demokrasi modern ditandai dengan kenyataan bahwa nasib massa ditentukan oleh para elit.
            Di Indonesia sendiri, kompetisi antara elit politik saat ini sudah mencapai titik “kurang sehat” . konflik antar elit politik lebih menggambarkan pada penghancuran kehidupan demokrasi modern itu sendiri. Seperti pada perilaku politik legislator yang bertikai diluar koridor demokrasi.
            Melalui upaya pemberdayaan elit politik dan lembaga demokrasi, diharapkan konflik elit politik dapat bersifat produktif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Konflik elit politik dapat dipandang nantinya sebagai penjelmaan proses dinamis dari demokrasi.
KESIMPULAN
            Dari pembahasan diatas jelas terlihat bahwa kalangan elit politik cenderung lebih memihak kelompok politiknya yang hanya segelintir daripada kepentingan orang banyak. Dan apakah pemilu yang diharapkan dapat memilih para kalangan elit politik yang independen berhasil melahirkan para wakil sesuai dengan tujuan awal diadakannya pemilu.
            Fenomena tingkah laku elit politik yang dijelaskan pada awal tulisan ini yakni ketidakmampuan mengelola peluang dan mengelola modal legitimasi untuk pulih dari krisis, gemar menciptakan dan mempertajam konflik, sulitnya kerja sama dan meluapnya kemarahan adalah fenomena yang menunjukkan rendahnya kecerdasan emosional elit politik kita.
            Konflik elit politik tidaklah selalu dipandang negative, asalkan terlembaga, berdasar pada norma-norma yang berlaku, dan disepakati bersama. Untuk itu, lembaga-lembaga demokrasi perlu dibangun dan diperkuat.
 Referensi
Budiardjo, Miriam. Dasar-dasar Ilmu Politik(Jakarta: Gramedia, 1998. )




Sistem Perekonomia Komunis

A.         Latar Belakang
            Dulunya sebelum munculnya ekonomi komunis didahului dengan berkembang secara pesat perekonomian kapitalisme yang menjamur hampir diseluruh dunia. Banyak negara berlomba-lomba meningkatkan produksinya dimana akhirnya kelompok borjuis dan orang yang memiliki modal semakin kaya dan kaum proletar serta buruh tani kebawah semakin miskin. Dari sini terlihat jelas sekali perbedaan antara keduanya, dimana kapitalis lebih menuntungkan pemilik modal dan kaum borjuis dan merugikan bagi kaum buruh dan proletar.
            Kemudian setelah kapitalisme muncul untuk lebih melindungi lagi pemilik modal dan penyempurnaan pemikiran ekonomi kapitalis maka lahirlah pemikiran liberalism. Awalnya liberalism dianggap dapat memberikan angin baru bagi perekonomian dunia khususnya eropa pada saat itu. Tetapi ternyata liberalis malah menjadi momok yang semakin menakutkan dan menjadi ancaman bagi negara-negara di Asia dan Afrika. Karena pada zaman Liberalisme munculnya ide dan gagasan untuk mencari bahan baku kenegara-negara lain dan juga terjadinya persaingan industry yang mau tidak mau harus mereka lakukan karena pada saat itu banyak negara-negara yang kekurangan bahan baku dan karena kawasan eropa yang dingin dan juga terjadi peperangan serta pertumbuhan industry dimana pabrik-pabrik produksi membutuhkan bahan baku lebih banyak lagi dan dieropa harga rempah-rempah melambung tinggi harganya membuat banyak negara-negara eropa melakukan penjelajahan guna mengumpulkan rempah-rempah dan bahan baku lainnya dimana pun mereka kelak singgah.
            Di zaman liberalism inilah dikenal dengan penjajahan yang padahal tujuan utama meraka hanya untuk mencari bahan baku dan rempah-rempah berubah menjadi keinginan untuk menguasai daerah atau negara penghasil rempah-rempah atau bahan baku lainnya, untuk mencukupi kebutuhan bangsa mereka dan untuk dijual dengan harga yag lebih mahal. Perekonomian liberal memandang ekonomi dengan mengeluarkan modal sekecil-kecilnya dan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Itulah prinsip yang digunakan oleh mereka yang menganut paham liberalis.
            Setelah melihat bagaimana kaum liberalis memeras tenaga buruh dan memberikan gaji yang dibawah rata-rata bahkan jauh dari tenaga yang mereka keluarkan. Maka muncullah Karl Marx yang menjadi pelopor pertama penentang liberalis dengan tulisan-tulisan dan pemikiran-pemikiran yang telah disumbangkan untuk lebih memajukan perekonomian dan juga tidak merendahkan pemerintah sehingga pemerintah dapat menjadi penghubung antara pemilik modal dengan pemerintah dan juga menjadi titik terang kaum buruh yang mendapat pencerahan dan juga membela kaum buruh dan proletar untuk memperbaiki perekonomian mereka sehingga mereka dapat meningkatkan perekonomian mereka. Bagi kaum borjuis dan opemilik modal Marx merupakan ancaman, dimana Marx memberikan semangat dan membuat para buruh berani menuntut gaji yang sesuai dengan tenaga yang telah mereka keluarkan.
            Disinilah akhirnya kapitalisme dan liberalism mendapat ancaman dan momok yang menakutkan dari munculnya perekonomian sosialis yang menjadi sebuah rezim yag kuat di Asia bagian timur dan berkembang pesat hingga mencapai wilayah Eropa barat dan membuat banyak negara berfikir secara keras bagaimana cara menghentikan laju pemahaman sosialis yang pertama kali dikenalkan oleh Marx tersebut dieropa teoatnya Prancis.  A.  Sejarah Munculnya Sistem Perekonomian Komunis
            Kata “komunis” lahir berbarengan dengan kata ”sosialis” yaitu pada tahun 1830[1] pada awalnya ke dua kata ini memiliki arti yang sama tertapi kemudian “komunis” diartikan atau dipakai untuk aliran sosialis yang lebih radikal lagi dari sosialis yang benar-benar sosialisme, dimana komunis menuntut penghapusan total hak milik pribada dan kesamaan konsumsi serta mengharapkan keadaan komunis itu bukan dari kebaikkan pemerintah tetapi semata-mata dari perjuangan kaum terhisap itu sendiri (Kolakowski I, 214). Dari keradikalan tersebut terlihat bahwa komunis merupakan suatu aliran yang benar-benar seluruh penguasaan harta kekayaan atau hak milik lainnya dikuasai oleh pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat dan rakyat diseluruh negara yang memiliki paham komunis ini.
            Nampak jelas perbedaan antara system perekonomian liberal dimana pihak swasta atau pemilik modal yang lebih berkuasa dibandingkan dengan pemerintah dalam mengatur perekonomian di system liberal pemerintah hanya bertugas mengawasi dan juga memnyediakan saran prasarana yang akan mempermudah para pemilik modal untuk melakukan aktifitas perdagangannya. Tetapi dalam system perekonomian komunis dimana pemerintahlah yang mengatur segala kepemilikkan yang ada pada individu dan di system perekonomian ini kaum borjuis dan para pemilik modal mengalami masa yang cukup menyedihkan, karena seluruh harta benda yang mereka miliki disita dan dikelolah oleh negara dan kaum proletar serta buruhlah yang lebih diuntungkan.
            Sistem perekonomian komunis lahir berbarengan dengan sosialis tetapi dalam pokok permasalahan kali ini kami hanya membahas tentang system perekonomian komunis jadi dapat dikatakan dulunya sebelum ada pembedaan antara komunis dan sosialis, dimana komunis sendiri memiliki arti yang sama dengan sosialis dimana para tokohnya seperti Karl Marx yang kemudian para pengikutnya menakan mereka sebagai Marxisme dan juga Friendrich Engels.
            Menurut Marx sendiri yang lahir pada masa perang dan mempengaruhi pemikirannya dan pada saat itu dia pergi ke Prancis dan melihat peperangan di Prancis dengan mata kepalanya dimana peperangan industry telah membuat kaum proletar dan buruh sengsara. Dimana menurut Marx upah yang diterima oleh kaum buruh itu tidak sesuai dengan tenaga ynag telah mereka keluarkan dalam melakukan produksi disuatu pabrik jadi dalam pandangan Marx haruslah sesuai antar upah atau gaji yang diterima dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan dalam arti bahwa mengandaikan adanya suatu penghisapan tenaga kerja oleh majikan yang luar biasa. Dimana pekerjaan yang biasa dibayar atau mendapat upay yang biasa begitu juga seterusnya.
            Sedangkan Friendrich Engels sendiri yang merupakan salah satu yang meneruskan pemikiran Marxis dimana Engels menerapkan dialektika yang menjadi metode Marx dalam menganalisis perkambangan sejarah pada alam, memberikan paham yang dialektis sekaligus materialis (Engels I, 19) .
            Dikemudian hari pemikiran Marx memberikan inspirasi dan pergerakan perjuangan di Rusia yang merupakan negara pertama Komunis. Pemeikiran Marx yang dilanjutkan oleh Engels itu dan dengan tulisan Marx dan artikel-artikel yang telah diterbitkan oleh Koran-koran illegal yang ada pada saat itu memuat pemikiran-pemikiran Marx yang sosialis tanpa disadari akan melahirkan pejuang revolusioner di Rusia dan sekaligus akan menjadikannya Pendiri negara komunis pertama yang juga kelak akan menjadi negara tandingan super power  Amerika dan menjadi momok yang menakutkan bagi paham liberalis dan kapitalis.
            Vladimir Ilyic Ulyanov atau Lenin, lahir pada 10 april 1870 menurut kalender lama Rusia atau 22 April 1870 menurut kalender Modern di Simbirsk. Lenin sendiri dilahirkan dari keluarga yang hangat dan bahagia serta tumbuh dengan penuh cinta, tak terbayang kelak ia akan menjadi salah satu pemikir revolusioner dan merupakan pendiri negara komunis yang namanya akan tercantum dalam tinta emas sejarah dunia.
            Lenin merupakan seorang yang lulus dalam bidang hukum dan menjadi pengacara bagi kaum proletar dan buruh yang ada di Rusia. Menjalani kehidupan sebagai engacara umum membuat Lenin muak dengan para pemikir social-demokrasi yang hanya mementingkan diri mmereka sendiri dan lebih membela kaum borjuis. Pada masa pemerintahan Tsar Alexander II, Lenin masuk kedalam kelompok pembela kaum buruh dan ikut demo dengan  para buruh, setelah itu ia ditangkapa dan dibuang ke Siberia, dalam pembuangan tersebut Lenin berhasil merampungkan karya besarnya yang pertama diberi judul The Development of Capitalism in Rusia (1988) yang diterbitkan dibawah nama samara Vladimir Ilyin.
            Pasca pembuangan tersebut Lenin akhirnya bertemu tokoh-tokoh yang menganut paham Marxis dan juga mulai tertarik membaca pemikiran-pemikiran Marx. Setelah membaca dan merenung dipembuangan tersebut akhirnya muncul ide untuk melakukan revolusioner dan menggalang bantuan untuk melakukan demo kepada Tsar Alexander II dan ia melihat bbegitu banyaknya kaum buruh dan proletar dibandingkan kaum borjuis, mengapa mereka tidak dapat menjatuhkan pemerintahan tersebut.
            7 November 1917 jatuhnya kekuasaan Tsar Rusia. Jadi prinsip perekonomian mulai tumbuh dengan bersamaan tumbuhnya negara komunis pertama yaitu Rusia. Komunisme mulai menjalar dan menjadi momok yang menakutkan bagi sitem Kapitalis di eropa dan barat. Komunis mulai menjalar dan mnguuasai 18 negara yang ada didunia ini, dan merupakan sepertiga dari penduduk dunia saat itu. Kemudian ajaran lenin ini dikenal dengan nama “Marxisme-Leninisme” yang merupakan tonggak atau pilar dari berdirinya komunis dan system perekonomian yang menjadikan negara pemegang segala kekayaan rakyatnya dan dipergunakan untuk kesejahteraan rakyatnya.  
                                                                                                                                  
B.  Perkembangan Sistem Perekonomian Komunis
            Sistem perekonomian komunis berkembang pertama kalinya di Rusia dan mulai menjalar hingga ke Cina bahkan Asia tenggarakan pun tidak luput dari perekonnomian tersebut. Di Rusia sendiri yang merupakan akar dari komunis, disana tidak adanya kepemilikan pribadi sehingga apapun yang pernah dimiliki akan dimiliki bersama jadi tidak adanya kaum proletar dan borjuis serta buruh yang diberikan upah sesuai dengan jada atau pekerjaan yang telah ia lakukan.
            Dalam perkembangannya yang anti kapitalis, dimana untuk mengambil alih kekuasaan sendiri menggunakan system partai komunis dimna bertujuan untuk menentangkepemilikian akumulasi modal atas nama individu. Dimana prinsip yang digunakan adalah semuanya direpsentasikan sebagai milik rakyat dan oleh karena itu seluruh alat-alat produksi harus dikuasai oleh negara guna kemakmuran rakyat secara merata, tetapi pada kenyaan malah hanya menguntungkan para elit-elit partai komunis dan bagi rakyat yang berada diluar partai tidak dihiraukan. Karena dalam komunisme tidak mengenal hak perseorangan sebagaimana yang terjadi pada liberalis. Komunis juga tidak mengakui adanya agama karena mereka menganggap bahwa agama merupakan sebuah candu yang akan menghambat perekonomian dan juga melumpuhkan pemikiran dengan begitu bagi kaum komunis yang ada hanya bekerja secara serius dan terus bekerja agar mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.
            Paham komunis mulai bergerak ke daratan China, di China sendiri perekonomian mereka diatur oleh negara dan bagi mereka yang menetang kebijakkan pemerinah akan dijatuhi hukuman tanpa terkecuali. Sebegitu tegasnya sitem komunis yang diterapkan di China membuat banyak rakyat mau tidak mau harus tunduk pada pemerintahan. Di China sendiri sampai ada pembredelan terhadap media massa pada saat itu.
            Tetapi pada saat ini China telah merubah system perekonomiannya kearah yang lebih baik lagi dari sebelumnya,tidak adalagi pengekangan terhadap pers, memberikan kebebasan perekonomian kepada masyarakatnya untuk perekonomian mereka masing-masing. Dimana pemerintah mulai membantu membangun kembali berbagai sarana dan prasarana yang ada untuk membantu pengusawan dan juga untuk menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat akan pemerintahan. Jadi saat ini  China menggunakan system perekonomian berasaskan komunis pada system ekonomi campuran komunis, sosialis dan kapitalis. Jadi saat ini tidak ada suatu sitem perekonomian yang benar-benar mengikat suatu negara, karena perbedaan letak geografis dan juga bentang lam yang tidak sama membuat banyak negara melakukan perombakkan dan campuran terhadap system ekonomi yang telah ada
            Jadi dapat dikatakan munculnya komunisme merupakan anak haram dan tidak disukai bagi kapitalisme, sebuah aliran ekstream yang muncul bersamaan dengan system sosialisme dimana komunisme selalu ingin mendobrak system kapitalisme dan juga system lainnya yang telah dulu berdir dan berkembang. Para pemegang komunis memiliki motto yang berbunyi “from each according to his abilities to each according to his needs(dari setiap orang sesuai dengan kemampuan, untuk setiap orang sesuai dengan kebutuhan).
            Sepert yang telah dijelaskan diatas walaupun tujuan perekonomian antara sosialis dan komunis dama tetapi dalam mencapai tujuan tersebut keduanya sagat berbeda dimana komunis merupakan bentuk yang paling ekstrem dalam system sosialis. Dimana negara merupakan penguasa mutlak dan perekonomian komunis sendiri juga sering disebut sebagai”system ekonomi tataliter” dimana menunjukkan suatu system social yang negara menjalankan pmerintahannya dengan paksaan.
             
C.  Kelebihan dan Kekurangan Sistem Perekonomian Komunis
            Kelebihan terbesar dari perekonomian komunis adalah kenyataan dimana setiap orang memiliki apa yang mereka butuhkan dan setiap masyarakatnya berkontribusi atau ikut serta dalam sebuah proses pembangunan negara sesuai dengan jabatannya.
            Dimana kesenjangan ekonomi dihapuskan dan tidak adanya lagi perbedaan antara kaum borjuis dan proletar serta buruh. Dimana membuat stabilitas ekonomi tercapai. Karena penghapusan kasta telah ada disebabkan perekonomian komunis yang melanda wilayah asia barat
            Sedangkan kekurangan dari sistem ini adalah dimana system ini tidak mempertimbangkan fakta bahwa semua individu tidak sama dan kemampuan setiap individu jelas berbeda-beda dari individu lainnya.
            Karena tidak adanya persaingan sehingga membuat pemikiran mereka tumpul sehingga menyebabkan tidak ada keiginan untuk melakukan inisiatif dan perubahan kearah yang lebih baik lagi.
            Karena semua proses perencanaan ditangani oleh para perencana pusat sehingga cenderung pelaksanaan sebuah kebijakkan berjalan lambat.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
            System perekonomia  komunis lahir berbarengan dengan system sosialis tetapi komunis lebih radikal dan ekstrem dalam mengatur pemerintahannya. Sehingga tidak ada masyarakat atau rakyat yang berani menentang kebijakkan yang dibuat oleh pemerintahan karena pemerintah merupakan pemegang kendali dalam perekonomian ini. Segala sesatu diatur oleh pemerintah sehingga para elit partai yang mendapat keuntungan lebih dari system ini.
            Komunis lahir sebagai tandingan dari system kapitalis yang pada saat itu menjadi raja system politik dibanyak negara. Komunis diyakini merupakan penyempurna ari kapitalis yang membuat kaum buruh menderita dan bekerja tidak sesuai waktunya. Seakan para buruh dab kaum proletar diibaratkan sapi perah yang hanya diberi makan seadanya dan dipekerjakan secara terus menerus.
            Tapi seiring berjalannya waktu perkonomian komunis mulai terlihat sisi negative dimana tidak semua rakyat yang dapat merasakan kebebasan yang sebenarnya mereka malah dibuat tunduk dan patuh kepada setiap kebijakkan yang dibuat oleh pemerintah dan para petinggi partai, sehingga mulai terjadi pergolakkan dan mulai terlihat adanya ketimpangan dalam menjalankan pemerintahan.
Saran
            Menurut kelompok kami system perekonomian komunis tidak lah bagus bagi sebuah negara karena pada ujung-ujungnya system tersebut hanya menguntungkan kaum-kaum elit politik partai yang ada didalamnya. Sedangkan system yang ada saat ini merupakan campuran-campuran dari berbagai system politik yang ada didunia saat ini baik itu sosialis, komunis, liberalis maupun kapitalis.
            Hal ini disebabkan karena pengaruh geografis dan letak suatu negara dengan negara lain yang berbeda-beda sehingga menuntut adanya penyesuaian system perekonomian dinegara tersebut. Seperti Indonesia yang memakai sitem perekonomian pancasila. Yang merupakan perekonomian yang merakyat tetapi juga pemerintah tidak lepas tangan dan selal mengawasi setiap perekonomian yang ada.
Daftar Pustaka
-          Arif Saiful dan Eko Prasetyo.2004. Lenin “Revolusi Oktober 1917”. Yogyakarta: Resist book
-          Suseno Frans Magnis. 2001. Pemikiran Karl Marx. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
-          Subandi. 2005. Sistem Ekonomi Indonesia. Bandung: Alfabeta



[1] Pieere Leroux, seorang pengantar Saint-Simonisme, mengklaim bahwa ialah yang yang membentuk kata “socialism”. Kolakowski I, 210; dikalangan para pengikut Owen pun kata “socialism” sudah mucul tahun 1827 Theimer II.

Pemikiran Ekonomi Kapitalis

            Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah sistem ekonomi Indonesia. Yang mana dalam tulisan ini membahas tentang teori-teori dan konsep mengenai sistem ekonomi kapitalis.
Pendahuluan
            Sejak berakhirnya Perang Dunia II, pengaruh-pengaruh negara pemenang sangat besar. Salah satunya adalah liberalisme. Liberalism ini merupakan paham yang menyatakan kebebasaan individu yang sebesar-besarnya. Dari liberalis ini juga melahirkan sistem perekonomian yang notabanenya juga memberikan kebebasan pada individu dengan mengembangkan perusahaan-perusahaan yang bukan berada dibawah kekuasaan negara namun merupakan perusahaan swasta atau privat. Sistem ini lah yang biasa kita sebut dengan sistem perekonomian model kapitalis.
            Sistem ini ditandai dengan kepemilikan, modal, usaha, dan pasar bebas. Semua ini bukan hanya berpengaruh pada perekonomian, namun juga pada seluruh aspek kehidupan dan kebudayaan masyarakat.
            Melihat fenomena-fenomena ini, maka penulis tertarik untuk menganalisa berbagai paradigma mengenai sistem ekonomi kapitalis. Pada bahasan selanjutnya, penulis akan memaparkan sejarah perkembangan, teori, dan berbagai konsep dari kapitalisme ini. Tulisan ini bersumber dari berbagai situs internet yang didalamnya memuat pemikiran-pemikiran para ahli atau pakar perekonomian.

Definisi, Sejarah dan Perkembangan Sistem Ekonomi Kapitalisme
            Dari etimologi kapitalisme terdiri dari dua kata, yaitu capital dan isme. Capital secara umum berarti modal, jadi kapitalisme adalah paham yang berdasarkan modal. Kapitalis dapat kita artikan sebagai suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal melakukan usaha untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Dalam paham ini, pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna mendapatkan keuntungan bersama, namun intervensi pemerintah adalah untuk kepentingan-kepentingan pribadi.
            Kapitalisme tentunya tidak dapat dipisahkan dari Eropa, tempat berkembangnya paham tersebut. Lahirnya sistem negara modern ditandai dengan tercapainya perjanjian Westphalia pada tahun 1648. Perjanjian ini menetapkan sistem negara yang merdeka dan berdaulat dan melepaskan diri dari otoritas politik paus dan gereja khatolik Roma. Ini merupakan munculnya embrio sekularisme yang memisahkan antara negara (politik) dengan agama. Prinsip dasar sekularisme itu adalah manusia sebagai pembuat aturan atau hukum. Namun di Eropa sampai pada abad ke-19, peran rakyat dalam politik masih sangat minim. Eropa pada masa itu masih diperintah oleh raja, kaisar, dan kaum aristokrat.
            Terdapat tiga peristiwa penting yang berpengaruh pada perubahan situasi di Eropa. Yaitu revolusi industri, revolusi Prancis, dan tingkat melek huruf (literasi). Revolusi industri telah memunculkan masyarakat kelas menengah yang mempunyai kekuatan ekonomi dan meminta keseimbangan politik yang sama. Sedangkan revolusi Perancis, memunculkan berbagai paham seperti nasionalisme, liberalism, dan equalitas. Yang mana paham-paham tersebut menuntut adanya peranan masyarakat dalam negara. Sedangkan meningkatnya tingkat melek huruf di kalangan rakyat menyebabkan mereka dapat membaca berbagai peristiwa dan pemikiran yang berkembang di Eropa.
            Ide pemisahan agama di negara dianggap sebagai jalan kompromi antara pemuka agama dengan para cendikiawan dan filsuf yang mengingkari dominasi para agamawan. Dengan demikian ide sekularisme ini tidaklah mengingkari adanya agama, namun tidak juga menjadikannya peran dalam kehidupan. Atas paradigma ini mereka berpendapat bahwa manusia berhak mengatur hidupnya sendiri, dan juga mempertahankan kebebasan individu yakni, kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, dan kebebasan atas kepemilikan. Dari kebebasan kepemilikan inilah munculnya paham sistem ekonomi kapitalis yang sesuai dengan nilai-nilai kebebasan individu diatas.
            Kapitalisme pada saat ini bukan hanya berarti sebuah teori ekonomi saja, namun kapitalisme sudah menjadi ideologi dunia yang mencengkram dan mengatur semua sendi-sendi kehidupan manusia secara menyeluruh dan sistemik.[1]
            Kelahiran sistem ekonomi kapitalis ini tidak dapat dipisahkan dari seorang ahli ekonomi yaitu Adam Smith. Dengan sistem pasarnya memunculkan pengetahuan tingkah laku ekonomi yang belum pernah ditemukan sebelumnya dan kemudian menjadi bahan analisa bagi terbentuknya sebuah ilmu. Pandangan, pemikiran, beserta reori-teorinya tertuang dalam bukunya dan menjadi dasar terbentuknya sistem ekonomi yang masih berlaku hingga sekarang, yakni sistem ekonomi kapitalis. Inti dari pemikiran Smith adalah bahwa proses distribusi dan produksi haruslah lepas dari campur tangan pemerintah dan adanya perdagangan bebas.[2]
            Pandangan teori dunia yang menganggap dunia sebagai sebuah kesatuan ekonomi kapitalis membuat negara pinggiran harus tergantung pada negara pusat. Negara terbelakang merupakan penghasil bahan mentah terutama dalam hal sector pertanian. Kapitalisme masuk melalui sistem perdagangan yang tidak adil dimana negara terbelakang menjual barang mentah dengan harga relative rendah yang meyebabkan eksploitasi petani. Perkembangan selanjutnya melahirkan industri baru yang membutuhkan spesialisasi tenaga kerja yang ahli. Munculnya teknologi baru menyebabkan kapitalisme ini memerlukan tenaga kerja yang mengerti akan teknologi. Namun hal ini tidak ditemukan pada tenaga kerja dari negara terbelakang. Jadi proses ini pada negara terbelakang menghasilkan tenaga kerja kasar dan sedangkan tenaga kerja terampil dikuasai dari negara pusat. Tenaga kerja kasar yang berasal dari negara pinggiran ini menjadi sumber tenaga kerja yang murah sehingga tetap terjadinya eksploitasi pada para buruh kasar ini.
            Kapitalisme yang menjalar hingga negara terbelakang membuat adanya perubahan struktur sosial pada masyarakatnya, muncul kelas sosial baru yaitu kelas pemilik modal atau kaum borjuis. Kelas borjuis di negara terbelakang ini juga dengan mudah mendapat dukungan politik dari pemerintah. Kelas borjuis ini juga menggunakan sistem kapitalis untuk meningkatkan perekonomian mereka.
            Meskipun telah banyak mengalami perubahan, ternyata ilmu Smith lah yang sampai saat ini mendasari perkembangan ekonomi liberal yang melahirkan sistem ekonomi kapitalis. Kapitalisme yang sudah mulai berjangkit sejak revolusi industri semakin diperkuat dengan penemuan Smith. Selain dari teori-teori ini kemudian muncullah pemikiran yang melawan kapitalis ini karena sistem ini telah menimbulkan kesengsaraan bagi buruh. Adalah Karl Marx yang dalam bukunya Das capital yang meramalkan keruntuhan dari kapitalisme tersebut walaupun sebenarnya kapitalisme ini memang tidak segera mati seperti yang dibayangkan Marx. Misalnya pada harapannya terhadap tahapan revolusi negara berkembang, Marx meramalkan bahwa negara terbelakang memerlukan dua tahap revolusi, yaitu revolusi borjuis dan revolusi sosialis. Revolusi borjuis dilakukan oleh kelas borjuis nasional guna melawan penindasan negara maju dan kemudian baru dilanjutkan oleh perjuangan revolusi sosialis oleh kelas proletar. Namun hal ini tidak sesuai yang diharapkan karena kaum borjuis nasional pun seperti yang telah di terangkan diatas juga memakai sistem ekonomi kapitalis dan hanya mementingkan keuntungan besar yang mereka peroleh sehingga tidaklah perlu oleh mereka untuk melakukan perjuangan kelas. Namun pemahaman ideology komunisme ala Marx ini juga mempunyai arti penting dalam pengaruhnya terhadap pemikiran-pemikiran selanjutnya dan masih dipakai oleh beberapa negara hingga saat ini.
            Dari keterangan diatas, dapatlah kita bagi sejarah perkembangan kapitalisme ini menjadi tiga tahapan.[3] Yang pertama, kapitalisme awal (1500-1750). Kapitalisme pada fase ini masih mengacu pada kebutuhan pokok yang ditandai dengan hadirnya industri sandang di Inggris. Dan kemudian berlanjut pada usaha perkapalan, bahan-bahan mentah, barang-barang jadi, dan bentuk variasi kekayaan lainnya. Perdagangan zaman ini berkembang menjadi perdagangan publik. Tahap selanjutnya yaitu kapitalisme klasik (1750-1914). Kapitalisme pada masa ini merupakan perkembangan dari perdagangan publik ke perdagangan industri. Hal ini ditandai dengan munculnya revolusi industri di Inggris dimana diciptakannya mesin-mesin besar yang menunjang industri. Tahap ketiga yaitu kapitalisme lanjut (1914-sekarang). Momentum utama fase ini ialah perang dunia I. kapitalisme lanjut sebagai peristiwa penting terbagi dalam tiga peristiwa. Pertama pergeseran dominasi modal dari Eropa ke Amerika. Kedua bangkitnya kesadaran bangsa-bangsa Asia-Afrika sebagai ekses dari kapitalisme klasik, yang kemudian mewujudkan kesadaran itu melalui perlawanan. Ketiga, revolusi Rusia yang berhasrat meluluhlantakkan fundamental kapitalisme, yang mana dari sini menghasilkan ideologi tandingan kapitalisme yaitu komunisme.

Tokoh-Tokoh Propaganda Kapitalisme[4]
            Disini akan dibahas mengenai beberapa pemikiran-pemikiran para ahli yang juga mempunyai andil terhadap ideologi kapitalisme. Pertama Francois Quesnay. Ia lahir di Perancis dan bekerja sebagai dokter di istana Louis XV. Tetapi ia lebih mengutamakan bidang ekonomi dan mendirikan aliran lesphisiocrates. Pada tahun 1758 menerbitkan table ekonomi. Kedua, John Locke. Ialah seorang yang meramu teori naturalism liberal. Pendapatnya “hak milik pribadi adalah salah satu hak alam dan insting yang tumbuh bersama pertumbuhan manusia”. Ketiga Adam Smith, ia adalah penganut aliran klasik terkenal. Lahir di Skotlandia. Tahun 1766 ia pergi ke Perancis dan bertemu dengan penganut liberalisme. Tahun 1776 menerbitkan Penelitian Alam dan Sebab-Sebab Kekayaan Manusia. Keempat David Ricardo, yang membahas hukum pembagian hasil perkapita dalam ekonomi kapitalisme. Teorinya yang terkenal adalah Hukum Pengurangan Penghasilan. Kelima Robert Malhus, seorang ekonom Inggris klasik yang pesimistis. Ia penemu teori kependudukan yang populer bahwa jumlah penduduk berkembang menurut deret ukur sedangkan produksi pertanian berkembang menurut deret hitung. Keenam John Stuart Mill, yang dikenal sebagai penghubung aliran individualisme dan sosialime. Ketujuh Lord Keynes, teorinya berkisar tentang pengangguran dan lapangan kerja. Teori ini berjasa dalam menciptakan lapangan kerja secara utuh bagi kekuatan aktif dimasyarakat kapitalis. Selanjutnya David Hume yaitu penemu teori pragmatisme. Ia mengatakan bahwa hak milik khusus adalah tradisi masyarakat yang harus diikuti, sebab disanalah manfaat mereka.
Perspektif Sistem Ekonomi Kapitalisme
            Terdapat 5 teori dasar dari kapitalisme ini menurut Adam Smith, yaitu:
1.      Pengakuan hak milik pribadi tanpa batas.
2.      Pengakuan hak pribadi untuk melakukan kegiatan ekonomi demi meningkatkan status sosial ekonomi.
3.      Pengakuan adanya motivasi ekonomi dalam bentuk semangat meraih keuntungan semaksimal mungkin.
4.      Kebebasan melakukan kompetisi, dan
5.      Mengakui hukum ekonomi pasar bebas / mekanisme pasar.
Prinsip-Prinsip Kapitalisme, antara lain:
1.      Mencari keuntungan dengan berbagai cara, upaya, dan sarana. Kecuali yang terang-terangan dilarang oleh negara, seperti produsi heroin dan semacamnya yang dapat merusak masyarakat.
2.      Mendewakan hak milik pribadi dengan membuka jalan selebar-lebarnya bagi setiap orang untuk mengerahkan kemampuan dan potensi yang ada untuk meningkatkan kekayaan dan menjaganya
3.      Price System sesuai dengan tuntutan permintaan dan kebutuhan dan bersandar pada peraturan harga yang diturunkan dalam rangka mengendalikan komoditas dan penjualannya.
Ciri-Ciri Kapitalisme:
a.       Pengakuan yang luas atas hak-hak pribadi. Pemikiran alat produksi ditangan individu. Individu bebas memilih pekerjaan/usaha yang dipandang baik baginya.
b.      Perekonomian diatur oleh pasar. Pasar berfungsi memberikan signal kepada produsen dan konsumen dalam membentuk harga-harga. Campur tangan pemerintah diusahakan sekecil mungkin. Motif yang menggerakkan perekonomian adalah mencari laba.
c.       Manusia dipandang sebagai makhluk homo-economicus yang dipandang bahwa selalu mengejar kepentingan / keuntungan sendiri.
Bentuk-Bentuk Kapitalisme
Kapitalisme Perdagangan. Muncul pada abad ke-16 setelah sistem feudal dihapus.dalam sistem ini seorang pengusaha mengangkan hasil produksinya dari satu tempat ketempat lain sesuai dengan kebutuhan pasar. Dengan demikian ia perantara antara produsen dan konsumen.
Kapitalisme Industri. Lahir karena ditopang oleh kemajuan industri dengan penemuan mesin uap oleh James Watt pada tahun 1765 dan mesin tenun tahun 1733. Semua itu telah membangkitkan revolusi industri di Inggis dan Eropa menjelang abad ke-19. Kapitalisme industri ini tegak atas dasar pemisahan antara modal dan buruh, yakni antara manusia dan mesin.
Sistem Kartel. Yaitu kesepakatan antara perusahaan-perusahaan besar dalam membagi pasaran internasional. Sistem ini memberikan kesempatan untuk memonopoli pasar dan pemerasan seluas-luasnya. Aliran ini tersebar di Jerman dan Jepang.
Sistem Trust.  Yaitu sebuah sistem yang membentuk suatu perusahaan dari berbagai perusahaan yang bersaing agar lebih mampu memproduksi dan lebih kuat untuk mengontreol dan  menguasai pasar.

Kelebihan dan Kelemahan Sistem Kapitalisme
Kelebihan
-          Lebih efisien dalam memanfaatkan sumber-sumber daya dan distribusi barang-barang
-          Kreativitas masyarakat menjadi tinggi karena adanya kebebasan melakukan segala hal yang terbaik darinya
-          Pengawasan politik dan sosial minimal, karena tenaga dan waktu yang dibutuhkan lebih kecil
Kelemahan
-          Tidak terjadinya persaingan sempurna. Yang ada hanya persaingan tidak sempurna dan persaingan monopolistik
-          Sistem harga gagal mengalokasikan sumber-sumber secara efisien, karena adanya faktor-faktor eksternalitas (yang tidak memperhitungkan yang menekan upah buruh dan lain-lain).
Dampak Sistem Kapitalisme
            Berakhirnya perang dunia II yang dimenangkan oleh AS dan negara-negara barat lainnya, menyebabkan perekonomian dunia dipegang oleh mereka yang mana sistem ekonomi yang dipakai adalah kapitalis. Setelah tahun 1945, AS membuat program pembangunan dunia ketiga atau Developmentalisme. Program ini dicetuskan oleh WW. Rostow dan dipelopori oleh presiden AS masa itu Harry S Truman. Pembangunan ini dikategorikan dalam 5 orientasi pembangunan. Yaitu, masyarakat tradisional, prasyarat untuk lepas landas, lepas landas, kedewasaan, dan konsumsi massa tinggi. Melalui rencana pembangunan ini maka Amerika membentuk dan memprakasai World Bank dan IMF untuk membuat rencana pembangunan. Sasarannya adalah negara kalah perang dan negara-negara yang baru merdeka. Kemudian perluasan wilayah pembangunan di arahkan pada negara-negara yang mempunyai kesamaan ideologi kapitalisme. Pada era Soeharto, Indonesia dibantu untuk membangun negara dan pemerintahannya. Sejak saat itulah Indonesia juga turut serta menganut paham kapitalisme. Hutang luar negeri pertama kali adalah melalui IGGI yang diterima oleh 9 pengusaha. Yang dalam perkembangannya kesembilan orang tersebut menjadi konglomerat yang berpengaruh di Indonesia maupun Asia Tenggara. Cirri khas ideologi developmentalisme yaitu GBHN , terutama pada program PELITA.
            Dalam melaksanakan pembangunan cirri khas utamanya yaitu teknologi yang harus didatangkan dari negara Amerika dan Eropa. Kemudian untuk memperkuat landasan ekonomi, Indonesia banyak mengirim ahli ekonomi nya belajar di Amerika. Dan kemudian kembali membawa sistem, kurikulum yang sesuai dengan corak Amerika tersebut.
            Perkembangan ekonomi dunia kemudian mengalami krisis ketika terjadi konjungtur dalam corak produk kapitalisme. Kemudian bentuk ekspansi ekonomi mulai dirubah oleh negara-negara barat sesuai dengan kepentingan pasar yang lebih luas, dimana teknologi juga diperlukan oleh negara-negara dunia ketiga. Jadi perubahan real akan terjadi dalam semua sector untuk setiap tahap perkembangan arus ekonomi yang terus bergerak. Sehingga negara-negara didunia termasuk Indonesia dipaksa mengikuti arus perkembangan ekonomi tersebut.

Kesimpulan
            Sejak berakhirnya Perang Dunia II, pengaruh-pengaruh negara pemenang sangat besar. Salah satunya adalah liberalisme. Liberalism ini merupakan paham yang menyatakan kebebasaan individu yang sebesar-besarnya. Dari liberalis ini juga melahirkan sistem perekonomian yang notabanenya juga memberikan kebebasan pada individu dengan mengembangkan perusahaan-perusahaan yang bukan berada dibawah kekuasaan negara namun merupakan perusahaan swasta atau privat. Sistem ini lah yang biasa kita sebut dengan sistem perekonomian model kapitalis.
. Kapitalis dapat kita artikan sebagai suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal melakukan usaha untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Dalam paham ini, pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna mendapatkan keuntungan bersama, namun intervensi pemerintah adalah untuk kepentingan-kepentingan pribadi.
            Tokoh-tokoh yang berpengaruh pada ekonomi kapitalis ini antara lain Francois Quesnay, John Locke, Adam Smith, David Ricardo, Robert Melhus, John Stuart Mill, Lord Keynes, dan David Hume.

Referensi
asy-syihab.blogspot.com/.../sejarah-dan-perkembangan-ekonomi.html, diakses pada tanggal 2 november 2010.



[1] Dikutip dari pendapat Muhammad Baiquni Syihab. Dalam tulisannya di blog asy-syihab.blogspot.com/.../sejarah-dan-perkembangan-ekonomi.html, diakses pada tanggal 2 november 2010.
[4] Ibid.