Kamis, 04 September 2014


Peran FAO dalam menangani krisis pangan di Ethiopia tahun 2006-2012
Latar Belakang
Isu yang berkembang saat ini banyak yang menyangkut masalah food security yang terus berlanjut sampai saat ini. Masalah krisi pangan menjadi isu yang sangat meresah masyarakat dunia. PBB menbentuk sebuah organisasi khusus untuk menangani masalah pangan, yakni Food and Agriculture Organization (FAO). FAO sendiri berdiri sejak tahun 1945 memiliki tujuan mambantu Negara-negara berkembang dalam memperbaiki pertanian serta memastikan terpenuhinya nutrisi yang baik untuk Negara anggotanya. Tapi saat ini FAO lebih focus pada masalah kelaparan dan kemiskinan. FAO memiliki program kerja untuk memperbaik teknik atau proses pertanian dengan demikian akan membantu Negara anggotanya mengurangi krisis pangan. Krisis pangan adalah suatu proses penurunan asupan pangan serta gizi kepada masyaraka.
Penyelesaian masalah krisis pangan merupakan tanggung jawab dan tugas dari FAO dimana salah satu tujuan mulia FAO adalah mengurangi masyarakat yang masih kekurangan pangan maksimal 50% dari sebanyak 239 juta jiwa yang berada dikawasan Afrika Sub-Sahara yang dikenal dengan istilah MGDs (Millenium Goal Developmens). Menurut FAO salah satu factor yang menyebabkan terjadinya krisis pangan diwilayah Afrika termasuk Ethiopia adalah makanan pokok utama, berupa gandum yang mengalami peningkatan yang sangat tinggi dalam dua tahun terakhir hal ini disebabkan terjadinya kemarau panjang.
Musim kemarau yang panjang di Afrika juga memberikan pengaruh terhadap krisis pangan yang terjadi di Ethiopia, tapi pada tahun 2007 terjadi perubahan iklim yang ekstrim sehingga menyebabkan terjadi hujan deras yang pada akhirnya menyebabkan Ethiopia mengalami gagal panen. Krisis pangan di Ethiopia dapat dilihat dari tahun 2005, kemudian berlanjut ketahun berikutnya. Menurut Direktur Jendral FAO, Jacques Diouf ada 5 faktor yang menyebabkan meningkatnya harga pangan saat ini. Pertama meningkatnya kebutuhan pangan dinegara-negara yang sedang tumbuh perekonomiannya. Kedua meninggakatnya kesejahteraan penduduk dinegara yang sedang tumbuh tersebut. Ketiga rendahnya stok pangan dunia. Keempat adanya bencana alam yang tidak terduga, dan kelima adanya kebutuhan sereal untuk bioenergi. Pada tahun 2007 sekitar 86 juta jagung untuk pangan digunakan untuk menghasilkan energy alternative.
Ethiopia mengalami krisis pangan disebabkan oleh musim kemarau yang berkepanjangan dan juga masalah krisis financial dari Negara tersebut, hal ini merupakan tantangan baru bagi FAO bagaimana menyelesaikan krisis pangan yang terjadi di Ethiopia. Untuk mewujudkan masyarakat yang bebas dari masalah pangan FAO memiliki tantangan yang berat sehingga menimbulkan pertanyaan dari penulis yaitu “ Bagaimana peran FAO dalam menyelesaikan krisis pangan yang terjadi di Ethiopia dari tahun 2006-2012?”
Teori yang digunakan oleh penulis ada teori Organisasi Internasional yang focus pada masalah Negara dilihat dari perfektif ekonomi politik internasional. Mereka setuju bahwa institusi internasional dapat membuat kerjasama lebih mudah dan jauh lebih baik, tapi mereka juga tidak menyatakan institusi semacam itu dapat menjamin tranformasi yang lebih kuantitaf dalam hubungan internasional.[1] Menurut Keohane, Young, Rittberger, dan Levy institusi internasional merupakan sebuah ciptaan dari Negara kuat, mereka merupakan kepentingan yang independen dan mereka dapat memajukan kerjasama antar negar-negara.[2]
Menurut kaum liberal isntitusional, institusi internasional merupakan suatu organisasi internasional, seperti NATO,UE yang merupakan seperangkan aturan yang mengatur tindakan Negara-negara dalam bidang tertentu, dan seperangkat aturan tersebut disebut juga sebagai “rezim”.[3] Pada kasus peneliti kali ini yakni FAO yang memiliki tujuan untuk mengurangi krisis pangan dunia. OI memiliki kekuatan hukum untuk  ikut membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh sebuah Negara dan memberikan saran apa yang seharusnya dilakukan oleh Negara tersebut.


[1] Robert Jackson & Georg Sorensen. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2005. Hal. 154
[2] Ibid.
[3] Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar