Kamis, 03 Mei 2012

Masyarakat Melayu Thailand dan Vietnam


Tugas Individu ke 4
Nama                                       : Sarah
NIM                                        : 0901120186
Mata Kuliah                            : Studi Masyarakat Melayu
Dosen                                      : Ahmad Jamaan S.IP, M.Si
Masyarakat Melayu Thailand dan Vietnam
Thailand
Orang melayu Islam di Thailand dapat kita lihat dari bentuk tubuh dan wajah mereka yang agak berbeda dengan orang Thailand kebanyakannya. Menurut Hamka kalau kita berjumpa di Makkah saat melaksanakan Haji, kita tidak dapat membedakan antara Melayu Indonesia, Malaysia, Thailand, Brunei, Philipine, Mindanao dan Singapura. Orang Melayu Thailand adalah penduduk asli yang meneroka tanah air mereka dan bukan pendatang seperti orang China dan Tamil dari India di Malaysia yang didatangkan untuk kepentingan penjajah ketika itu. . Orang Melayu Islam di Thailand tidak mendapatkan keistimewaan seperti ini di Phuket.
Kebebasan beragama cukup terjamin dengan adanya sejumlah masjid untuk orang Islam. Ceramah agama bebas dilakukan. Pendidikan agama atau sekolah pondok para guru dan biaya buku serta pakaian sekolah murid dibayar oleh pemerintah. Sejauh ini nampaknya cukup demokratis di Phuket. Artinya pajak yang dibayar oleh ummat Islam Phuket dikembalikan ke rakyat dalam bentuk infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan bantuan lainnya.
orang Melayu Islam di Thailand dipaksa atau terpaksa menerima Thailand secara utuh. Nama-nama mereka adalah nama-nama orang Thailand. Mereka menggunakan bahasa dan tulisan Thailand sebagai amalan harian. Disekolah-sekolah -termasuk sekolah pondok- mereka harus menyanyikan lagu kebangsaan Thailand. Keadaanya hampir sama dengan orang Cina di Indonesia, dimana mereka harus berbicara dengan bahasa Indonesia, menggunakan tulisan Indonesia (Melayu), menukar nama menjadi nama ke Indonesiaan, sejarah kedekatan mereka dengan penjajah seperti menjadi mata-mata, rasa nasionalisme dan sebagainya akan di ungkit disaat mereka tidak lagi meng Indonesia. Kata orang Melayu Islam Thailand, kalau mereka tidak menggunakan nama, bahasa dan tulisan Thailand dalam amalan keseharian, maka mereka akan dituduh tidak nasionalis, ingin merdeka dan sebagainya.
Tulisan Arab Melayu yang pernah menjadi simbol kesatuan Islam Melayu Nusantara seperti di Zaman Syeikh Daud Al-Fathani, Ar-Raniri, Ahmad Khatib Minangkabawi, Palimbani dan sebagainya sepertinya hilang atau dihilangkan secara sitematik. Keadaannya hampir sama dengan di negara asia tenggara lainnya. Padahal tulisan Arab Melayu menurut penulis adalah simbol kesatuan Nusantara yang pernah bersatu dibawah kesatuan ulama melayu Silam yang tidak dibedakan berdasarkan negara -karena memang belum lahir negara-negara seperti saat ini-. Walaupun kesatuan Nusantara beberapa kali gagal dalam sejarahnya, namun semangatnya menurut saya tidak hilang dan masih subur. Harapan penulis kedepan Nusantara atau alam melayu atau asia tenggara akan menjadi seperti kesatuan Eropah saat ini yang memiliki mata uang yang sama, kerjasama dibidang pendidikan, pertahanan, ekonomi, kesehatan dan infrastruktur lainnya. Karena sekuat apapun negara yang ada di Nusantara saat ini, seperti juga negara-negara Arab -menurut penulis-, ia tidak akan bisa menjelma sebagai negara “kuasa besar” seperti USA, Soviet Union dll, kalau tidak bersatu antara satu dengan lainnya seperti kesatuan Eropa sekarang.
Vietnam
Campa, menurut literatur Cina bernama Lin Yi, yang muncul pada tahun 192 Masehi, terletak di bahagian tengah negeri Vietnam sekarang, antara Gate of Annam (Hoanh Son) di utara dan Sungai Donnai di selatan. Penduduk Lin Yi bertutur dalam bahasa Cam dari rumpun Austronesia. Sejak awal Lin Yi merupakan negeri yang takluk pada Cina dan membayar upeti kepadanya. Nama “Campa” disebut (dan dipakai) pertama kali dalam dua buah inskripsi bahasa Sanskerta, satunya bertarikh 658 yang ditemui di bagian tengah Vietnam dan satu lagi ditemui pada tahun 668 di Kampuchea.
Ajaran agama yang dianut masyarakat Campa pada abad kelapan dan sembilan adalah Budha Mahayana yang sampai ke Campa melalui sami yang datang dari Cina. Hubungan dengan Nusantara bermula ketika terjadi rompakan besar-besaran oleh orang Jawa pada penghujung abad kelapan. Dan hubungan itu menjadi lebih baik dalam bentuk hubungan perdagangan dan persahabatan. Pada abad ke sembilan terjadi peralihan orientasi Campa dari Cina ke India. Mulai zaman ini tamadun Campa termasuk sistem sosial, keagamaan dan lain sebagainya, dipengaruhi oleh Budaya India yang beragama Hindu dan Budha. Pada 939 muncul kekuatan baru di wilayah ini yakni Dai Viet (kemudian menjadi Vietnam), dan mulai sejak itu terjadi peperangan yang berkepanjangan antara Vietnam dan Campa, dan pada 982 Vietnam berhasil menghancurkan ibu kerajaan Indrapura, dan raja Campa memindahkannya jauh ke selatan yakni ke Vijaya (Binh Dinh sekarang), bahkan pada 1044 Dai Viet (Vietnam) berhasil menduduki kota Vijaya dan membunuh rajanya. Berbagai usaha pernah dilakukan raja-raja Campa untuk membalas dendam dan menyerang Vietnam, tapi kenyataannya pada setiap penyerangan, justru Vietnam semakin dapat memperbesar wilayahnya dan mencaplok Campa. Pernah kerajaan Campa kembali pada kejayaannya dalam waktu singkat, ketika diperintah oleh Che Bong Nga (1360-1390), karena dia berusaha mengembalikan wilayah yang dirampas Vietnam, dan dia memerintah dengan cukup adil dan berjaya memerangi lanun.
Pada 1471 raja Vietnam Le Thanh Tong menyerang Campa secara besar-besaran, dan menghancurkan Vijaya, membunuh lebih 40.000 penduduk, mengusir lebih dari 30.000 lainnya dari bumi Campa, dan bahkan menghancurkan apa saja sisa-sisa kebudayaan Campa yang dipengaruhi Hindu/Budha, dan kemudian menggantikannya dengan kebudayaan Cina/Vietnam. Dengan kemenangan Le Thanh Tong pada 1471 itu, maka tamatlah riwayat Kerajaan Campa belahan utara, khususnya Indrapura, Amarawati dan Vijaya. Selanjutnya yang bertahan adalah sisa-sisa kerajaan Campa belahan selatan Kauthara dan Panduranga yang diperintahi oleh Bo Tri Tri dan pengganti-penggantinya. Kerajaan Campa mulai menerima kebudayaan Melayu serta Islam yang masuk melalui pelabuhan Panduranga dan Kauthara, dan meningkatkan hubungan dengan tanah Melayu dan Nusantara, dikabarkan raja Campa bernama Po Klau Halu (1579-1603) sudah memeluk Islam, bahkan telah menghantar tentaranya untuk membantu Sultan Johor di Semnenanjung Tanah Melayu untuk menentang Portugis di Melaka tahun 1511.
Namun sayang sekali lagi raja Nguyen dari Vietnam menaklukan Kauthara (1659) dan Panduranga (1697). Raja Panduranga terakhir Po Cei Brei terpaksa mengungsi meninggalkan negerinya bersama ribuan pengikutnya menuju Rong Damrei di Kampuchea. Pada 1832, Penguasa Vietnam Minh Menh melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap sisa-sisa terakhir penduduk Campa Panduranga, merampas seluruh sawah ladang mereka, dan memasukkan wilayah Panduranga menjadi bagian Vietnam. Dan hal itu menandai lenyapnya Sisa Kerajaan Campa terakhir dari peta bumi untuk selamanya, walaupun kebudayaan dan etnik Campa tetap berlanjut tapi sudah berada di pengungsian yakni Kampuchea.

Kehadiran Orang Campa dan Melayu di Kampuchea
Seperti telah diuraikan sebelumnya, ramai orang Campa yang meninggalkan tanah airnya karena desakan Nam tien atau pergerakan orang-orang Vietnam ke selatan. Untuk menyelamatkan diri mereka hijrah ke Kampuchea. Di Kampuchea mereka bertemu dengan kelompok Melayu yang datang dari Nusantara. Terjadilah akulturasi budaya karena persamaan agama, dan rumpun bahasa Austronesia, ke dalam masyarakat baru yang disebut Melayu-Campa atau Jva-Cam.
Kehadiran masyarakat Melayu di Kampuchea bermula sejak beberapa abad sebelumnya. Sumber-sumber Khmer menyebutkan bahwa dalam abad ke 7, kaum Jva telah menghuni beberapa wilayah Khmer yang datang sebagai pedagang, pelaut dan tentara laut. Semasa abad ke 15 hubungan dunia Melayu dan Kampuchea meningkat dari segi ekonomi dan agama. Ramai pedagang dan penyebar agama tiba di Kampuchea. Menurut sumber-sumber Melayu di Kampuchea, kebanyakan orang Melayu berasal dari Borneo, Jawa, Sumatera, Singapura, Trenggano dan Patani. Bahkan untuk waktu-waktu tertentu ketua-ketua Melayu telah menjalin kerjasama dan saling membantu dengan Raja-raja Khmer.
Gelombang migrasi masyarakat Campa di Kampuchea adalah selepas 1471 ketika Vietnam menduduki Vijaya, gelombang berikutnya selepas 1697 ketika Vietnam menduduki Panduranga, dan terakhir karena mengalami siksaan luar biasa pada 1832. Migrasi Campa berlaku karena melarikan diri dari penghancuran Vietnanm, sedang migrasi Melayu dari Nusantara terjadi karena perdagangan dan penyebaran agama Islam. Dan kedua etnik berbeda asal usul ini bersatu dalam satu agama yakni Islam di negeri asing bernama Kampuchea. Kedua suku ini karena persamaan nasib, dan persamaan agama, akhirnya bekerjasama dan bercampur sehingga melahirkan etnik baru yang disebut Melayu-Campa. Oleh penguasa Khmer masyarakat Melayu-Campa ini dipersilahkan untuk berdiam di wilayah Oudong (ibu nregara Khmer waktu itu), wilayah Thbaung Khmum, Stung Trang dan daerah-daerah Kompot, Battambang dan Kampung Luong sekarang ini.
Masyarakat Melayu-Campa membentuk satu komuniti khusus yang dikenali sebagai ”Cam-Jva”. Perkataan ”jva” berasal dari perkataan ”Jawa” yang ditafsirkan masyarakat Kampuchea sebagai semua masyarakat Melayu dari manapun asalnya. Mungkin mereka berasal dari Pulau Jawa, Sumatera atau mana-mana negeri di Semenanjung Tanah Melayu dan Patani. Istilah ”cam” merujuk kepada penduduk yang berasal dari kerajaan Campa yang pada zaman dahulu terletak di tengah Vietnam sekarang. Karena kedua-dua masyarakat Melayu dan Cam menganut agama Islam dan tergolong di dalam kelompok linguistik Austronesia, maka masyarakat Khmer menggolongkan mereka kepada kelompok ”Cam-Jva” atau ”Melayu-Campa”.Pada tahun 1874 penduduk Melayu-Cam berjumlah 25.599 orang. Sepuluh persen penduduk Phnom Penh adalah Melayu-Cam. Di daerah-daerah pemukiman Melayu-Campa ini banyak kita temui Masjid dan surau, serta tempat pendidikan agama. Kebanyakan Melayu-Campa bekerja sebagai peladang, nelayan, peternak lembu dan peniaga yang handal, sebahagian lainnya berkhidmat selaku kaki tangan kerajaan, mulai dari pegawai peringakat kampung chumtup, mekhum, mesrok dan chaway srok, bahkan juga ada yang berkhidmat sebagai tentara dan memegang jabatan politik.
Keseluruhan membuktikan bahwa masyarakat Melayu-Cam telah benar-benar merasa Kampuchea sebagai negara bangsanya sendiri tanpa terkecuali, dan telah memberikan kesetiaannya kepada Kampuchea, termasuk ketika penjajahan Perancis. Sebaliknya pemerintah Khmer tidak menganggap Melayu-Cam sebagai pendatang dan orang asing, tapi warga negara bukan pribumi, sebagaimana banyak warga semacam itu lainnya. Kampuchea merdeka dari jajahan Perancis tanggal 9 Nopember 1953, di bawah kepala Negara Norodom Sihanouk. Namun sayangnya masyarakat Melayu-Cam tidak disebutkan dari sudut etniknya, yakni etnik Melayu-Cam, tapi disebut Khmer Islam, sebutan yang dipopulerkan hingga ke hari ini.
Belakangan kelompok-kelompok minoriti yang dilindungi di kawasan Pays Montagards du Sud (PMS) yang merangkumi Kontum, Pleiku, Ban Methuot, Djing dan Dalat yang terdapat di Vietnam Selatan, dihapuskan dan seluruhnya dianggap masyarakat Vietnam. Hal yang sama juga dialami oleh sisa-sisa minoriti Cam di Vietnam dan Khmer Krom (masyarakat Khmer yang berdiam di Vietnam Selatan). Oleh sebab itu, masyarakat Melayu-Cam di Kampuchea berusaha berjuang bersama masyarakat PMS di Vietnam dan orang-orang Khmer Krom, membentuk perikatan yang disebut FULRO (Front Unifie de Lutte des Races Oprimees atau Barisan Pembebasan Ras-ras Tertindas). FULRO merangkumi gabungan Front de Liberation du Champa (Barisan Pembebasan Campa), Front de Liberation du Kampuchea Krom (Barisan Pembebasan Kampuchea Krom) dan Front de Liberation du Kampuchea Nord (Barisan Pembebasan Kampuchea Utara).
Ahli jabatan kuasa FULRO terdiri dari Presiden Chau Dara dan dua orang naib presiden: Y. Bham Enoul (seorang Rade dari Ban Methuot) dan Po Nagar (seorang tentara Kapuchea yang berasal dari Kompong Cam, yang di kalangan Islam dikenali dengan Les Kosem). Les Kosem seorang tentara payung terjun Kapuchea, yang pada tahun 1970 dilantik menjadi general, dia merupakan pimpinan Mulayu-Cam yang berpengaruh dalam angkatan tentara dan politik Khmer. Pada masa pemerintahan Lon Nol, nasib Melayu-Cam agak lebih baik, karena kepercayaan dan berbagai posisi diberikan pada Melayu-Cam dan FULRO. Les Kosem ditunjuk menjadi mediator dalam menyelesaiukan berbagai konflik intern Muslim dan perwakilan Kapuchea ke berbagai negara Muslim. Tapi setelah kejatuhan Kampuchea ketangan Khmer Rouge, Les Kosem melarikan diri ke Malaysia dan meninggal di Kuala Lumpur tahun 1976.
Semasa rezim Pol Pot dari Khmer Rouge (1975-1979), beribu-ribu orang Kampuchea telah diseksa dan dibunuh karena diyakini bekerjasama dengan rezim Lon Nol dan karena alasan agama yang dianutnya. Seperti diketahui bahwa Khmer Rouge adalah penganut ajaran Komunisme radikal, dan menghalang kebebasan beragama. Melayu-Cam yang beragama Islam merasakan penderitaan yang amat sangat berat. Masyarakat Melayu-Cam dan Khmer Islam dipaksa meninggalkan tradisi keagamaan mereka, nama yang memiliki konotasi Islam, dihapuskan, Masjid dan madrasah tidak difungsikan atau dikurangi jumlahnya, kebiasaan-kebiasaan agama lainnya dihapuskan. Al-Qur’an dan bacaan-bacaan keagamaan lainnya dimusnahkan. Budaya dalam bentuk aktifiti-aktifiti, pakaian, makanan dan asesoris Islam lainnya dilenyapkan, termasuk nama dan gelaran keagamaan.
Pada tanggal 17 April 1975, pasukan khusus Khmer Rouge yang disebut Angkar, telah melakukan pencarian dan penyisiran diikuti penyiksaan terhadap siapa saja yang mereka curigai mengikut Lon Nol. Pada 20 Mei 1975, Pol Pot telah melakukan diskriminasi sosial berdasarkan pilihan politik dan agamanya, sehingga yang ada hanya dua pilihan: ”ikut Pol Pot atau menolak Pol Pot”. Mereka yang dianggap menolak Pol Pot mengalami nasib yang tidak pernah terjadi dalam sejarah umat manusia, yakni pembantaian besar-besaran.
Diperkirakan antara satu sampai tiga juta rakyat telah dibunuh atau mati karena kekurangan makanan, satu juta diantaranya adalah Melayu-Campa. Dan lebih kurang enam juta lainnya mengalami trauma berat karena ketakutan yang sangat berat. Umat Islam karena alasan ideologi dan keagamaan serta merupakan ”kaum pendatang” merupakan umat paling menderita, mereka dipaksa berpisah dengan kaum sesama umat Islam, atau diusir ke hutan dan gunung atau bagi yang mampu ada yang melarikan diri ke Luar Negeri, yang paling banyak lari ke Kelantan (Malaysia), Vietnam dan Thailand serta negara-negara barat.

Walaupun Kher Rouge hanya memerintah selama empat tahun, tapi akibatnya dari aspek budaya, banyak rakyat Khmer Islam dan Melayu-Camp yang sudah tidak kenal agamanya, tidak pandai tulis baca Arab dan Campa. Pol Pot berhasil mengikis habis identitas keislaman dan Ke-Campa orang-orang Melayu Campa.
Barulah setelah kejatuhan rezim Pol Pot dan diperintah oleh Hun Sen dan Raja Sihanouk, masyarakat Melayu-Cam/Khmer Islam kembali merasakan sedikit kemerdekaan beragama. Masjid sudah mulai difungsikan kembali demikian juga madrasah-madrasah. Masyarakat Islam diletakkan di bawah majlis yang terdiri dari enam orang yang dilantik oleh raja. Majlis Agama Islam Kampuchea (MAIK) dipimpin oleh seorang Changvang (mufti), sekarang dijabat oleh Uztadz Kamaruddin Yusof, dibantu oleh dua orang Pembantu Mufti (sekarang Uztadz Yusof Kadir dan Uztadz Arsyad), dilengkapi dengan tiga orang Penasehat (sekarang YB Math Ly, YB Tol Loh dan YB Ismail Osman). Di setiap kampung terdapat seorang pemimpin spritual bergelar Hakim. Di daerah Trea (Kompong Cham) ditubuhkan sekolah Madrasa Hafiz al-Qur’an, kemudian diikuti Sekolah Dubai di KM 9 Pnomh Penh, Darul Aitam di Pochentong, Serkolah Ummul Kura di Chrouy Metrei. Madrasa Hajjah Rohimah Tambichik di Nohor Ban dan Ma’had al-Muhammady di Beng Pruol. Sebenarnya sebelum rezim Kher Rouge memerintah Kampuchea, banyak pelajar Kampuchea melanjutkan pelajarannya ke Malaysia, Thailand Selatan, Egypt, Arab Saudi dan Kuwait.
Saat ini solidaritas dari badan-badan Islam Internasional, dan umat Islam antara bangsa telah muncul, karena nasib umat Islam di Kampuchea yang begitu menyedihkan. Rabithah Alam Islami di Mekah, Konferensi Negara-Negara Islam (OIC) dan lain sebagainya telah menyalurkan berbagai bantuan, mulai dari pengiriman mushaf Al-Qur’an sampai bantuan rehabilitasi Masjid dan melakukan advokasi (pembelaan) nasib umat Islam tersebut. Lembaga-lembaga keagamaan, seperti Jema’ah Tabligh dan Darul Arqam serta Regional Islamic Da’wah Council of South East Asia And Pacific (RISEAP) dari Malaysia mendatangkan guru dan pendakwah/ulama serta melakukan berbagai kunjungan silaturrahmi. Saat ini sudah dikukuhkan 320 buah kampung orang Islam, 110 diantaranya terdapat di propinsi Kompong Cham, juga sudah dipulihkan fungsinya dan direhabilitasi bangunannya sebanyak 270 masjid dan surau, dan dikikuhkan 600 orang Tuan dan Hakim. Propinsi lainnya yang juga kuat umat Islamnya adalah Propinsi Battambang dan Kampot.
Di Kampuchea terdapat empat persatuan Umat Islam: yakni Samakum Islam Kampuchea (Persatuan Islam Kampuchea) di bawah kepimpinan YB Math Ly. Samakum Khmer Islam Kampuchea (Persatuan Khmer Islam Kampuchea) dipimpin oleh YB Wan Math. Samakun Islam Preah Reach Anachakr Kampuchea (Persatuan Islam Kerajaan Kampouchea) di bawah pimpinan YB Ahmad Yahya, Dan Samakum Cham Islam Kampuchea (Persatuan Cam Islam Kampuchea) diketuai guru bernama Guru Zain yang tinggal di Prek Pra. Kedua-dua istilah: Khmer Islam dan Cam sama-sama diterima dan dipakai secara resmi. Selanjutnya juga ada Yayasan seperti Cambodian Muslim Development Foundation dan Combodian Islamic Development Community. Dan tentu saja tidak boleh dilupakan adalah organisasi intelektual Muslim Kampuchea Cambodian Muslim Intelectual Alliance (CMIA) yang menyelenggarakan acara kita saat ini.
Adapun tokoh-tokoh Islam Kampuchea yang terkenal karena posisinya yang dekat dengan pantadbiran antara lain: YB Math Ly (ahli parlemen, timbalan Perdana Menteri dan bekas Menteri Pendidikan). Onkha Othman Hassan (ahli parlemen, penasehat Perdana Menteri), YB Ahmad Yahya (Ahli parlemen), HE Ismail Yusoff (ahli parlemen), YB Ismail Osman (Ahli parlemen dan timbalan menteri di kementrian Hal Ehwal Kepercayaan dan Agama). YB Zakariyya Adam Osman (timbalan Menteri di Kementrian Hal Ehwal Kepercayaan dan Agama).
Hubungan Budaya Melayu Campa dan Asia Tenggara
Seperti sudah disebutkan, terdapat dua etnik yang menyatu di Kampuchea, yakni Melayu-Cam. Orang Kampuchea menyebut mereka dengan ”Cam-Jva”. Istilah ”jva”, yang berasal dari perkataan Jawa. Walaupun di Kampuchea istilah ”Jva” tidak di maksudkan hanya untuk orang Jawa, tapi seluruh orang Melayu atau Nusantara, termasuk Semenanjung Tanah Melayu dan Patani. Sedang ”Cam”, atau Cham berasal dari etnik atau (kerajaan lama) Campa.
Kalau orang Melayu merantau dari Tanah Melayu atau Nusantara, maka orang Cam mengungsi secara besar-besaran dari tanah asal mereka di bagian tengah Vietnam sekarang, dan keduanya yang kebetulan berasal dari rumpun bahasa yang sama yakni Austronesia, dan belakangan mempunyai agama yang sama, yakni Islam, maka kedua etnik tersebut dengan cepat menyatu dan melahirkan etnik Jva-cam atau Melayu–Campa.
Walaupun orang Kampuchea tidak dapat membezakan orang Melayu, tapi dari kalangan Melayu sendiri, membagi Melayu menjadi tiga kategori: (1) Orang Jva Krabi (dalam bentuk tulisan Chhvea Krabei) menunjukkan orang Melayu yang berasal dari Pulau Sumatera, khususnya Minangkabau. Krapi dalam bahasa Kampuchea berarti “Kerbau”, diperkirakan menggunakan istilah Jva Krabi, karena konon kabarnya dahulu kala kerbau orang Minangkabau menang melawan kerbau yang dibawa dari Jawa. (2) Orang Jva Ijava (Chhvea iava), maksudnya orang Melayu yang berasal dari Pulau Jawa. (3) Orang Jva Malayu (chhvea Malayou), menunjukkan orang Melayu yang datang dari negeri-negeri Semenanjung Tanah Melayu dan Patani.
Hijrahnya orang Melayu dari Nusantara, dalam rangka berdagang atau karena mereka anak maritim yang senang mngembara dilautan lepas, diperkirakan setelah masuknya Islam di Nusantara, sehingga mereka ikut membawa Islam ke Kampuchea. Proses imigrasi itu diperkirakan berlangsungabad ke 13 dan 14. Orang Melayu telah memainkan perannya yang besar dalam mengajarkan Islam di Kampuchea. Raja Khmer sering memberi gelaran kepada tokoh-tokoh Islam, seperti ”Onkha To Koley”, berasal dari Ukana To’ Kali. Koley berasal dari kata Kalih (bahasa Melayu) atau Kadi (bahasa Arab yang berarti Hakim). Gelaran ”Onkha Reachea Mu Sti”, berasal dari Ukana Raja Mufti. Mufti (bahasa Arab berarti pemberi fatwa), sedang ”Onkha Reachea Peanich”, berasal dari Ukana Raja Sampatti, senopati (bahasa Jawa yang berarti perwira) yang bertanggug jawab dalam bidang perniagaan dan ekonomi.
Pada akhir abad ke 16, sumber-sumber Khmer menyebutkan terdapat dua tokoh Melayu-Cam, bernama Po Rat atau Cancona (berasal dari Cam) dan Laksmana (dari Melayu), yang berbakti pada Raja Ram I (Ram dari Joen Brai (1594-1596), kedua mereka ini dikenal sebagai pemimpin tentara yang sangat kuat dan handal, dan dipercaya memadamkan berbagai pemberontakan dan diantar memimpin ekspedisi ke berbagai wilayah. Sebagai balas jasa, Raja Khmer menghadiahkan wilayah Thbaung Khum untuk mereka jadikan sebagai tempat tinggal keturunan dan masyarakat Islam lainnya.
Menjelang abad ke 17, orang Melayu berhasil mengislamkan raja Khmer Ramadhipati I (Cau Bana Cand) (1642-1658), diperkirakan masuk Islamnya Raja Ramadhipati I ini karena kuatnya lobbi dan pengaruh Islam di istana, sehingga hanya dengan ikut Islam, kekuasaan raja tersebut akan dapat bertahan. Raja Ramadhipati I merupakan satu-satunya raja Khmer yang masuk Islam sampai masa belakangan. Untuk zaman akhir ini, Malaysia merupakan negara Melayu yang sangat giat melaksanakan pengakajian masalah Campa dan kaitannya dengan Dunia Melayu, pengkajian itu dilakukan bersama Ecole Francaise d’Extreme Orient, sehingga sejarah Kerajaan Campa dan kaitannya dengan Melayu, dapat dibuka tabir rahasianya yang terbenam bersama lenyapnya Kerajaan Campa itu. Dan khusus bagi Indonesia, sebenarnya Campa merupakan wilayah budaya yang mempunyai tempat istimewa – khususnya pada masa klasik, zaman Majapahit dan Sriwijaya, di mana wilayah pergaulan budayanya sampai ke daerah Campa – perdagangan dan pertukarangan budaya berjalan sangat intensif. Bahkan dalam ceita lama, dikatakan bahwa seorang puteri Cantik Campa bernama Gayatri telah dipersunting oleh raja muda Singosari, menunjukakan bagaimana hubungan itu telah terjalin sejak lama.
Untuk masa hadapan, perlu diperkuatkan lagi kerjasama akademik antara Indonesia dan Malaysia bagi menubuhkan penggalian khazanah lama, pengkajian Hubungan Melayu-Campa dan Dunia Melayu, dalam kerangka persepahaman dunia, dalam kerangka kerjasama umat Islam sedunia.
Referensi
http://sejarahmelayu.wordpress.com/ diakses pada tanggal 5 November 2011

2 komentar:

  1. minta data masyarakat multikultural yang lengkap :)
    benyuk keanekaragamanya gimana,sistem ideologinya,masalah yang timbul akibat adanya multikultural di thailand,trus lembaga yang menangani masalah itu siapa aja?

    BalasHapus