Selasa, 08 Mei 2012

The Twenty Years Crisis adalah karya dari Edward Hallet Carr yang mempunyai kontribusi besar dalam perkembangan studi Hubungan Internasional


The Twenty Years Crisis adalah karya dari Edward Hallet Carr yang mempunyai kontribusi besar dalam perkembangan studi Hubungan Internasional.Dalam buku ini, Carr memberikan kritiknya terhadap ide-ide pemrikiran kelompok idealisme-utopian yang cukup terkenal pada waktu itu.The Twenty Years Crisis adalah bentuk kekecewaan Carr atas krisis yang terjadi selama 20 tahun, yang menurutnya merupakan kegagalan dari The League of Nations.Setelah berakhirnya Perang Dunia I, LBB dibentuk sebagai wadah bagi negara-negara untuk mempererat hubungan mereka agar tidak terjadi perang lagi.Namun tidak seperti yang diharapkan, negara-negara tersebut masih membuat persekutuan –persekutuan tanpa sepengetahuan LBB.Akhirnya kembali terjadi penyerangan-penyerangan seperti, Jepang yang melakukan invansi ke Manchuria.

Dalam The Twenty Years Crisis, Carr mengusung paradigma realis dalam melakukan hubungan internasional dan mengkritik pemikiran-pemikiran kelompok idealisme-utopian.Kaum idealisme-utopian mempunyai pandangan yang optimis bahwa akan muncul dunia yang aman dan damai dari peperangan.Oleh karena itu, bisa dikatakan salah satu alasan terbentuknya LBB adalah berdasarkan pemikiran idealisme-utopian.LBB diharapkan dapat mencegah secara permanen konflik militer antar negara, tapi sayangnya gagal terlaksana.Carr menilai bahwa terjadinya krisis selama 20 tahun merupakan kesalahan dari pemikiran idealisme-utopian dalam memahami fakta dan realita hubungan internasional pada waktu itu.Pemikiran kaum idealisme-utopian mengesampingkan aspek power politics dan mengedepankan aspek etik-moral.Menurut Carr, jika tujuan utama dalam hubungan internasional adalah power politics maka perang tidak akan bisa dihindari.Oleh karena itu, Carr menganggap bahwa pemikiran-pemikiran kaum idealisme-utopian adalah sesuatu yang tidak real (khayalan).

The Twenty Years Crisis merupakan bentuk kritikan Carr terhadap agenda normatif dari kaum idealisme-utopian.Agenda normatif tesebut adalah bagaimana seharusnya negara saling berhubungan dan mentransformasikan politik dunia secara radikal sehingga tercipta tatanan internasional yang damai serta tidak perlu lagi memikirkan balance of power.Kaum idealisme-utopian  menganggap bahwa diri mereka adalah agen-agen dari perubahan tersebut.Namun Carr mengkritik pemikiran ini dengan mengatakan bahwa,”power adalah sebuah unsur esensial dalam politik sehingga tidak mungkin menghilangkan power dari hubungan internasional”.Jadi, bisa dilihat bahwa pemikiran realis yang diusung oleh Carr berdasarkan kritikan terhadap pemikiran idealisme-utopian.

Terdapat gambaran mengenai perbedaan antara realisme dengan idealisme-utopian dalam The Twenty Years Crisis.Carr menggambarkan empat perbedaan antara keduanya, yaitu; pertama, deskripsi skematik antara realita dan utopia.Kaum idealisme-utopian optimis tentang adanya transformasi masyarakat ideal melalui act of will, tapi masalahnya mereka tidak  mempunyai pengetahuan cukup untuk melakukan perubahan masyarakat ideal karena terdapat hambatan-hambatan yang nyata.Sedangkan kaum realis menganggap realitas sosial adalah produk dari hubungan kausalitas yang tidak bisa dirubah begitu saja melalui perjanjian.Jadi, bisa dikatakan bahwa idealisme-utopian optimis akan terciptanya dunia yang damai tapi tidak mempunyai tindakan real untuk mewujudkan hal tersebut, sedangkan realisme pesimis terhadap tindakan-tindakan yang dipercaya dapat mengubah dunia yang ideal.

Kedua, mengenai teori dan praktik yang dilakukan oleh idealisme-utopian dan realisme.Kaum idealisme-utopian mencoba menghasilkan realita dengan mengacu pada teori, sedangkan kaum realis menghasilkan teori berdasarkan realitas.Ketiga, golongan radikal dan golongan konservatif.Dalam hal ini kaum idealisme-utopian dianggap sebagai golongan radikal karena kaum mereka lemah dalam melaksanakan teori kedalam praktik. Dan kaum realis adalah golongan konservatif karena lemah dalam teori tapi kuat dalam praktiknya.Yang terakhir adalah antara etika dan poltik.Kaum idealisme-utopian optimis bahwa etika adalah panduan dalam kebijakan luar negeri, sedangkan kaum realis berpandangan bahwa etika muncul dari kekuasaan sehingga politik lebih memegang control daripada etika.Bisa dikatakan bahwa kaum idealisme-utopian menjadikan etika sebagai kontrol politik.

Kritikan Carr terhadap pemikiran-pemikiran idealisme-utopian tidak hanya sebatas perbedaan saja, tapi Carr juga berpendapat bahwa adanya peristiwa-peristiwa tragis yang terjadi sekitar tahun 1930-an adalah bukti nyata terhadap kerapuhan lembaga internasional.Kaum idealisme-utopian percaya bahwa sebenarnya negara pada umumnya menginginkan perdamaian, hanya saja terkadang bersikap agresif dan tidak menghormati perdamaian sehingga bertindak anarkis dan ceroboh.Kaum idealisme-utopian juga mempunyai pandangan-pandangan yang absolut dan prinsip-prinsip yang universal, yang hal tersebut disangkal oleh Carr.Carr berpandangan bahwa prinsip-prinsip universal dari pemikiran kaum idealisme-utopian muncul dari keegoisan dan tujuan-tujuan elitis untuk memuaskan hasrat kekuasaan.

Adapun krisis 20 tahun yang melanda Eropa dari tahun 1919-1939 yang disebutkan dalam The Twenty Years Crisis adalah :

·         Tahun 1919 terjadi perselisihan antara Polandia dan Cekoslowakia.Terjadi perebutan wilayah Cieszyn yaitu wilayah perbatasan antara Polandian dan Cekoslowakia yang kaya akan batu bara.Cekoslowakia mengambil alih wilayah Cieszyn saat Polandia sedang bertahan terhadap invansi Bolshevik Rusia.

·         Tahun 1920-1938 terjadi pemutusan hubungan diplomatik yang dilakukan oleh Lithuania terhadap Polandia.Tahun 1920, Polandia mengambil alih kota Vilna yang diklaim oleh Lithuania sebagai ibukota negaranya, meskipun sebagian besar penduduknya adalah etnis Polandia.Untuk menyelesaikan masalah ini, LBB meminta Inggris dan Perancis untuk mendesak Polandia menarik mundur pasukanya dari kota Vilna.Tetapi Perancis tidak mau melakukannya karena berharap Polandia dapat menjadi sekutu sebagai”Buffer Zone” terhadap ancaman Rusia.


·         Tahun 1923 Perancis dan Belgia menginvansi Kota Ruhr jantung industri Jerman sebagai angsuran pembayaran kerugian perang.Dalam perjanjian Versailes 1919, Jerman diharuskan membayar biaya kerugian perang tapi pada tahun 1922 Jerman tidak bisa melakukan pembayaran.LBB tidak dapat mencegah invasi tersebut karena Perancis adalah anggota utama LBB.

·         Tahun 1923 Seorang Jenderal Italia, Enrico Tellini terbunuh saat menyelidiki perbatasan utama yang dibangun setelah Perang Dunia I antara Yunani dan Albania.Benito Mussolini sebagai pemimpin Italia saat itu menduduki daratan Corfu, bagian dari Yunani pada 31 Agustus 1923 dan meminta kompensasi dibayar secepatnya.Dan sekali lagi LBB kalah saing dengan kekuatan besar.


·         Tahun 1931 terjadi Insiden Mukden dimana Jepang mengklaim China telah mensabotase lintasan kereta api Manchuria Selatan yang berada dibawah wilayah China.Jepang melakukan invasi penuh atas Manchuria dan pada 28 Januari 1932 Jepang menyerang Shanghai, China.awalnya LBB mengumpulkan armada perang untuk melawan Jepang namun hal itu tidak terjadi.

·         Tahun 1920-1938 terjadi Perang Chaco antara Bolivia dan Paraguay disepanjang wilayah Chaco Bareal, Amerika Latin.Bolivia menyerang Paraguay dan Paraguay meminta bantuan LBB namun tidak ada tindakan dari LBB.
·         Tahun 1936 terjadi perang sipil di Spanyol antara kaum republik degan kaum nasionalis.Hitler dan Musso membantu pemberontak nasionalis sedangkan Uni Soviet membantu kaum republik.Dan LBB tidak dapat mencegah intervensi asing tersebut.

·         Tahun 1935 Italia mengintervensi Ethiopia dan LBB menjatuhkan embargo ekonomi terhada[p Italia, tapi hingga sanksi tersebut dicabut pada 4 Juli 1936 sanksi tersebut tidak pernah berjalan.


·         Tahun 1939 terjadi Peran Dunia II

The Twenty Years Crisis diakui oleh para pemikir idealisme-utopian relevan dengan realitas hubungan internasional dulu dan saat ini.Menurut Carr, tidak ada tempat bagi idealisme-utopian selama negara tetap menjadi aktor utama dalam sistem internasional.Dan tidak ada tempat bagi idealisme-utopian selama power politics masih menjadi instrument kebijakan luar negeri suatu negara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar