Kamis, 10 Mei 2012

MODERNISATION, GENDER AND GLOBALISATION: SITUATING THE MIGRATIONS OF THAI SEXWORKERS


Tulisan ini merupakan summary dari Studi Kasus Regionalisme dan Globalisme yang merupakan tulisan dari Kaoru Aoyama yang berjudul Modernisation, Gender and Globalisation : Situating the Migrations of Thai Sexworkers yang merupakan bab 1 dalam bukunya Thai Migrant Sex Workes : from Modernization to Globalization. Buku ini diterbitkan oleh Palgrave Macmillan pada tahun 2009.
Kaoru Aoyama menggunakan pendekatan empiris untuk menganalisa dinamika modernisasi, gender dan globalisasi terhadap kekhususan dan universalitas subjek migran pekerja seks di Thailand. Di awal pembahasan Kaoru Aoyama menjelaskan perdebatan tentang prostitusi yang telah membagi feminis ke dalam dua kubu dalam perkembangan terakhir. Dilanjutkan dengan jalan tengah antara dua kubu feminis, perbudakan seksual, pengenalan konsep social death serta menjelaskan empat isu substantif terhadap dekatnya industri seks global. Aoyama menutup tulisannya dengan merumuskan simpulan atas penelitiannya tersebut.
Di awal pembahasan, Aoyama memperkenalkan perdebatan tentang prostitusi yang telah membagi feminis ke dalam dua kubu dalam perkembangan terakhir. Satu sisi berpendapat bahwa prostitusi perempuan dianggap sebagai bentuk perbudakan; bahwa perempuan  terlibat sebagai hasil dari subordinasi patriarkal mengikat dan eksploitasi kapitalistik yang menjauhkan mereka dari penghasil pendapatan lainnya. Sisi lain berpendapat bahwa prostitusi harus diperlakukan sebagai suatu bentuk pekerjaan yang sah; sexwork  dianggap sebagai pilihan rasional. Dalam perdebatannya, muncullah peningkatan argumen untuk sebuah jalan tengah yang menekankan pada sifat kontingen prostitusi. Namun dalam perumusan jalan tengah juga tidak didapat sebuah kesimpulan kompleks yang disebabkan tidak adanya pertimbangan yang matang dari interaksi kompleks dari semua yang dapat dicapai dalam perdebatan. Oleh sebab itu, Aoyama mengambil jalan tengah dengan menawarkan penelitian ke arah pandangan kontinjensi melalui pengalaman responden sesuai keadaan mansing- masing. Kondisi kerja dan derajat akses terhadap sumber daya sosial, terutama untuk jaringan pribadi maupun sosial adalah faktor yang paling penting bagi responden dalam mendefinisikan bagaimana pendefinisian prostitusi.
Aoyama melanjutkan tulisannya dengan munculnya konsep ‘jalan tengah’ terhadap dua kubu feminis dalam pandangan prostitusi. Perdebatan dua kubu feminis lebih terhadap konsep prostitusi telah memiliki akar dalam konteks Thailand-Jepang secara teoritis maupun tingkat empiris,  ekonomi dan politik perdagangan seks sudah dikenal secara global. Kubu anti-prostitusi berpendapat bahwa prostitusi adalah subordinasi seksual utama wanita di bawah patriarki, beberapa anggota menggabungkan ini dengan fokus yang sama atau lebih besar pada eksploitasi ekonomi di bawah kapitalisme. Wanita memilih jalan prostitusi karena tidak adanya pilihan dari kehidupan lain bagi mereka untuk mendukung diri mereka di bawah dominasi ekonomi dan seksual laki-laki. Oleh karena itu, prostitusi perempuan terhadap laki laki secara struktural dipaksa dan dianggap sebagai bentuk perbudakan seksual. Perlu digarisbawahi bahwa pertimbangan nilai yang menawarkan tindakan seksual kepada orang lain untuk kompensasi moneter tidak lain adalah penundukan diri kepada pihak lain. Tindakan seksual sangat berhubungan erat dengan martabat manusia dan uang.
Kubu kedua berpendapat bahwa prostitusi dapat dimaknai sebagai keterampilan hidup atau bahkan sarana untuk pemberdayaan, terutama bagi mereka yang tidak memiliki cara lain untuk produktif dalam hidupnya yakni hidup dari menjual tenaga seksual. Jadi pilihan dari perempuan untuk terlibat dalam prostitusi harus dianggap sebagai keputusan yang rasional dan praktis, bukan sebagai kesadaran palsu. Pelacuran dalam situasi ini harus diperlakukan sebagai suatu bentuk pekerjaan, yang berbeda dari perbudakan seksual di mana perempuan kehilangan segala kemampuan untuk bertindak atas kehendak mereka sendiri.
Perdebatan prostitusi memuncak di Jepang selama tahun 1990-an. Diawali ketika publikasi tulisan kontroversial pada tahun 1993 tentang Sexwork yang diedit oleh Delacoste dan Alexander. Dilema kalangan feminis Jepang juga ditampilkan dalam teks ekspositori oleh Yukiko Tsunoda, pengacara feminis terkemuka dalam membela perempuan didakwa sesuai dengan UU Pencegahan Pelacuran. Dia menegaskan bahwa hak asasi manusia mereka harus dijamin secara penuh, untuk mengakui tindakan prostitusi sebagai pekerjaan adalah masalah lain. Pada waktu yang sama, Daizaburo Hashizume, seorang sosiolog agama kontemporer dan pendidikan, memicu kontroversi dengan menyatakan bahwa peserta diskusi terhadap prostitusi mengkritik eksploitasi dan subordinasi perempuan tidak berhasil dalam membangun logika apapun untuk menolak prostitusi. Argumennya muncul sebagai akibat dari bab berjudul "What’s Wrong with Prostitution?" dalam sebuah antologi pertarungan feminis mengenai komersialisasi seks. Hal ini menciptakan perhubungan untuk publikasi tanggapan kritis pekerja seks untuk argumen perbudakan oleh non pekerja seks, dengan antologi I DECIDE to Sell or Not (2000) disunting oleh Goichi Matsuzawa. Dalam buku ini, berbagai opini disajikan spesifik, sangat kritis, analisis argumen kontemporer oleh nom pekerja seks, menunjukkan bahwa telah dikembangkan melalui pihak ketiga pertimbangan nilai dengan tujuan politik dan moral menghapuskan prostitusi sebagai presuposisi. Setelah buku ini, kesenjangan besar antara persepsi menjadi jelas antara pekerja dan non pekerja tentang sexwork di Jepang dan tanggung jawab ditempatkan pada setiap tesis baru untuk membenarkan setiap upaya untuk membujuk pembaca tanpa dasar bukti empiris. Dan terakhir dalam Research on Perceptions of Women Working in Erotic Entertainment (2005), sebuah film dokumenter penelitian kehidupan sosial pekerja seks.
Melalui tren tersebut, perdebatan prostitusi kalangan feminis berkembang menjadi  ekstrim serta menuju kompromi antara kubu anti-prostitusi dan pro-sexwork. Terutama, argumen untuk sexwork menyerukan dekriminalisasi prostitusi, berbeda dari status pidana dalam yurisdiksi atau legalisasi yang membuat pelacuran dan pelacur yang dikendalikan negara. Dekriminalisasi prostitus harus diakui sebagai pekerjaan karena rentan terhadap eksploitasi sehingga diberikan dasar untuk perlindungan hak asasi mereka dalam praktek ekonomi dan hukum. Kedua kubu masing- masing mendapat manfaat dari kejelasan analitis yang lebih besar yang diberikan oleh perbedaan berikut yakni antara pelaksanaan kekuasaan oleh kekuatan eksternal dari sistem sosial dan ekonomi di mana para agen yang terlibat tidak memiliki kontrol dan kemampuan internal agen untuk bertindak di dalam dan melawan sistem.
Dalam perdebatan feminis, Aoyama mencari jalan tengah di mana dengan mengenali kedua kekuatan eksternal dan kemampuan internal dari perempuan sebagai agen yang terlibat dalam prostitusi. Argumen persuasif yang menyatakan bahwa apa prostitusi dan bagaimana hal itu harus diakui tergantung pada konteksnya masing- masing. Aoyama menambah bukti dengan memperkuat pengakuan terhadap kontingensi prostitusi. Argumen Aoyama untuk 'jalan tengah' dalam kasus ini kontras dengan argumen Julia O'Connell Davidson, salah satu pendukung 'jalan tengah' yang meneliti perdagangan Iseks domestik Inggris dan global.
Aoyama melanjutkan dengan terkait perbudakan seks terhadap pekerja seks. Faktor-faktor paling signifikan adalah kondisi kerja dan akses ke sosial sumber daya, terutama jaringan mereka dalam berhubunga. Dalam konteks ini, setiap wanita  tampak dan merasa berbeda tergantung pada sudut pandang dirinya pada saat artikulasi pengalaman tertentu. Umumnya keras pengalaman, lebih detail pengalaman responden semakin lama jarak temporal untuk pengalaman, mereka diartikulasikan sebagai sesuatu yang mirip dengan perbudakan. Di balik cerita-cerita tersebut ada banyak pengalaman traumatis serupa yang tidak bertahan untuk berbicara.
Konsep social death merupakan topik pembahsan Aoyama selanjutnya. Kemampuan pekerja seks dalam memiliki kontrol atas situasinya akan berkurang, persepsi subjektif tentang 'pekerjaan' secara bertahap menjadi negatif, dan beban emosi negatif terhadap orang lain serta dirinya sendiri menjadi lebih berat karena bergerak dari kiri ke kanan sepanjang sumbu dari 'kondisi kerja dan akses ke sumber daya sosial' terhadap tingkat terendah. Pada akhir negatif dari kontinum, ada 'kehilangan jaringan' yang akan  meningkatkan ancaman terhadap kehidupan dan membuat agen merasa bahwa dia tidak dapat melarikan diri dari eksploitasi dan kekerasan dan dengan demikian berada dalam situasi perbudakan maka menjadi salah satu dari social death baik dalam persepsi nya diri maupun terhadap hubungannya dengan orang lain. Social death pada akhirnya berdampak negatif dan identik dengan perbudakan.
Social death merupakan salah satu konsep utama yang digunakan Julia O'Connell Davidson dalam Prostitution, Power and Freedom (1998), di mana Julia meneliti makna dan praktek-praktek dominasi dalam pelacuran meliputi wilayah politik, budaya, moralitas, ekonomi dan yurisdiksi berdasarkan pada pengamatannya terhadap sejumlah varietas transaksi global.  O'Connell Davidson mencari jalan tengah dalam perdebatan feminis dalam prostitusi berteori serta bertujuan untuk membuat perubahan politik untuk kepentingan pekerja seks. Dia berpendapat bahwa prostitusi  lebih dikonseptualisasikan sebagai suatu kontrak daripada sebagai pertukaran uang untuk layanan seksual di mana klien mengambil alih kontrol tubuh pekerja seks. O'Connell Davidson membedakan prostitusi sebagai institusi yang unik diorganisasikan melalui sebuah kompleks yang berbeda dari hubungan kekuasaan. Dengan cara yang sama, Julia tidak setuju dengan feminis radikal lainnya terutama Susan Brownmiller, Catherine Mac Kinnon, Andrea Dworkin dan Kathleen Barry, yang penuh semangat berpendapat bahwa setiap dan segala bentuk prostitusi heteroseksual melalui pihak mendapatkan akses seksual kepada tubuh perempuan yang merupakan dominasi laki-laki atas perempuan dan yang mirip dengan hubungan tuan-budak. Argumen seperti mengabaikan sifat rumit dan kondisi transaksi prostitusi yang menghasilkan beraneka ragam pengalaman subjektif dari pelacur.
Social death terjadi dalam gradasi memburuknya kondisi dan kekurangan sumber daya sosial. Ini adalah ketika hal ini terjadi bahwa sexworker beberapa langkah ke dalam situasi perbudakan. Untuk membuat kondisi yang secara bertahap mengarah pada situasi perbudakan yang lebih mudah terlihat, sangat penting untuk membatasi penggunaan konsep social death untuk situasi dan persepsi yang dipisahkan dari konsep yang lebih umum dalam perspektif subjektif perempuan.
Aoyama melanjutkan terkait beragam pengalaman dari pekerja seks. Aoyama pada satu sisi berada pada kelompok yang mengatakan bahwa yang menjadi fokus adalah pengalaman dan kebutuhan para wanita itu. Sementara itu dia tidak setuju dengan kelompok lain yang mengatakan ‘melihat pelacur sebagai korban dari seksualitas pria.’ Dia juga tidak memakai konsep ‘bebas memilih’ nya O’Neill karena ‘bebas memilih’ menunjukkan kemampuan untuk memilih pilihan yang bebeda.
Narasi dari wanita yang ‘memilih’ untuk bekerja di dalam industri seks memperlihatkan  gambaran yang kompleks mengenai seksualitas, identitas serta pengalaman hidup dari para wanita yang melewati ruang antar gadis baik dan gadis nakal, diantara konformitas gender dan identitas seksual dalam sebuah masyarakat konsumen yg berputar pada kekuatan, hak-hak, kebutuhan dan aspirasi individual. Aoyama lebih memilih kata ‘pekerja seks’ daripada ‘budak seks’ karena kebanyakan berdasarkan dua penilaian; situasional dan futurisktik. Situasional, Aoyama menghormati responden-respondennya yang memiliki persepsi bahwa prostitusi ialah pekerjaan. Futuristik berhubungan dengan harapan bahwa mereka yang tidak berpartisipasi dalam memisahkan antara yang bekerja di dalam industri seks dari mereka yang tidak;  mengubah persepsi dengan mengatakan menyediakan layanan seks adalah salah satu bentuk pekerjaan dan tidak mempengaruhi martabat.
Sementara penilaian moral tentang perdagangan layanan seks untuk uang adalah pelanggaran, penilaian ini membuat pekerja seks terlihat buruk harga dirinya. Mereka juga dilabeli ‘menyimpang.’ Untuk melawan pelabelan itu, Aoyama menggunakan istilah pekerja seks dengan maksud bahwa pekerja seks bisa meningkatkan situasi mereka sendiri jika mereka bekerja dan hak mereka diakui sah dalam masyarakat. Berdasarkan akumulasi pengetahuan yang terletak dalam segmen tertentu dari industri seks lokal, didapat empat isu substantif mengapa mereka dekat dengan  jantung dari industri seks global kontemporer. Isu- isu substantif tersebut yakni : 1) dampak modernisasi terhadap kehidupan individu di bawah rekayasa sosial nasional; 2)  Gender pengertian dari harapan sosial, kewajiban dan tanggung jawab selaras dengan makna sekualitas wanita; 3) globalisasi budaya dan ekonomi dan 4) globalisasi migrasi.
Pertama, mengenai dampak modernisasi terhadap kehidupan individu di bawah rekayasa sosial nasional. Bagi masyarakat pertanian yang miskin di pedesaan, termasuk sebagian besar keluarga responden Aoyama, transformasi industri mengakibatkan perampasan sumber daya sosial yg melekat pada produksi pertanian, terutama sistem hubungan komunal yg berpusat pada wanita dan pewarisan properti di utara dan timur laut. Praktek-praktek politik dan ekonomi dari kebijakan pembangunan Thailand yang tidak terpisahkan dengan tekanan dari berbagai lembaga eksternal; World Bank, IMF, PBB, negara-negara Eropa, Amerika Serikat dan Jepang. Tekanan datang pada saat yang sama datang dari dalam, yaitu dari masyarakat yg berada di starata sosial yang tinggi ke yang lebih rendah dalam bangsa Thailand, berupa rekayasa sosial. Sebuah bagian integral dari tekanan ini adalah bercita-cita menuju akses ke kekayaan sosial dan material, tidak hanya barang dan uang tetapi juga pendidikan, kesehatan, dan pertukaran budaya bagi bangsa secara keseluruhan. Namun, ada kesenjangan antara apa yang dianggap perencanaan untuk kemajuan bangsa dan apa yang dibutuhkan bagi mereka yang dirampas oleh kondisi yang dibawa oleh pembangunan ekonomi itu sendiri. Kesenjangan ini ada di bagian utama kesenjangan sosial. Perencanan tidak memadai membahas masalah kehidupan nyata kelompok terget mereka, orang- orang  hidup dalam kemiskinan. Rencana pembangunan tidak bisa memasukan kebutuhan yang diperoleh dari pengalaman, pikiran, perasaan dari orang-orang sampai di rencana, awal pembangunan kedelapan untuk 1997-2001  . Gadis-gadis dan wanita muda yang berasal dari keluarga petani pedesaan yang terletak dalam posisi sosial yang rendah membayar harga yang lebih tinggi untuk bertahan hidup dalam kesenjangan. Rekayasa sosial  memiliki dampak yang besar, terutama pada kehidupan generasi responden Aoyama yang lahir antara tahun 1960- an dan awal 1980-an.
Kedua, terkait gender pengertian dari harapan sosial, kewajiban dan tanggung jawab selaras dengan makna sekualitas wanita. Harapan sosial gender, kewajiban dan tanggung jawab, sama dan sebangun dengan makna seksualitas perempuan. Dimulai dengan gender, Aoyama fokus pada peran pusat perempuan dan peran praktek dalam kegiatan perekenomian di Thailand. Aoyama setuju bahwa perempuan Thailand merupakan tenaga kerja yang tangguh dlm perekonomian Thailand secara formil dan informal dan hasilnya mereka punya kehadiran yang kuat, pengaruh dan kekuatan aktual dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pekerjaan professional dan administratif. Tapi evalusi Aoyama untuk kesetaraan gender secara keseluruhan di Thailand bertentangan dengan PBB sampai tahun 1990an, struktur sosio-ekonomi bangsa ini terjalin dengan bentuk pelengkap yang tidak setara diferensiasi gender budaya daripada egaliter dan hal ini telah membantu mempertahankan kemampuan khusus perenpuan dalam budaya. Aoyama menghubungkan diferensiasi sosial dengan sebagian besar kepercayaan Budha tertentu dan dengan garis keturuanan yang berpusat pada wanita. Kepercayaan dan norma- norma tradisional keturunan perempuan, terutama berakar pada budaya pertanian pedesaan, gender dan link Thailand konsep sigender bagi seksulitas melalui peran ibu, orang tua dan anak.
Ketiga, terkait globalisasi budaya dan ekonomi. Aoyama berpendapat bahwa ‘the unspeakability’ dari seksualitas wanita adalah faktor yanga mencolok dalam bentrokan antara ekspresi budaya yang spesifik dan budaya globalo yg dikomersialisaasikan dalam masyarakat modern Thai. Argumen ini mengubungkan seksualitas terhadap hubungan kekuasaan terkait isu yang tampaknya seksualitas pribadi ke kondisi ekonomi nasional thai selama periode pertumbuhan intensif dari perdagangan bilateral dengan jepang antara akhir 1980an dan awal 1990an. Ini lalu menyediakan latar belakang dari beberapa responden penulis yg beremigrasi ke Jepang menyebabkan perbedaan di pengalaman berdasarkan waktu, kondidsi bekerja dan ketersedian sumberdaya.
Keempat, Migrasi perempuan muda dari daerah pedesaan di utara dan timur laut Thailand, tidak hanya berhenti di Bangkok. Pada awal 1980-an, migrasi dari Thailand ke Jepang mulai meningkat, yang pertama sebagai migrasi 'hukum', seperti Thailand Migrasi Act 1979 dan Undang- Undang Ketenagakerjaan dan Rekrutmen 1983 dimulai perekrutan yang dikendalikan dari luar negeri. Rencana Pembangunan Sosial tahun 1977-1981 menekankan pengembangan infrastruktur untuk distribusi sumber daya dan untuk mempromosikan penyesuaian struktural ekonomi. Tetapi pada tingkat ekonomi bilateral maupun politik hubungan, defisit perdagangan Thailand ke Jepang, tumbuh sejak awal negara mulai merencanaan pembangunan nasional, sudah sebesar 71,5% yang tidak bertahan dari total defisit perdagangan nasional defisit pada tahun 1977. Pertemuan resmi antara Thailand dan Jepang diselenggarakan di tengah-tengah ketidakseimbangan ekonomi dan delegasi Thailand bahwa Jepang diminta bekerja sama dalam pemasaran dan promosi ekspor, khususnya dengan industri kecil dan menengah di Thailand. Saat itu di tahun ini, 1979, bahwa perusahaan multinasional berbasis Jepang memulai pelatihan karyawan Thailand di Jepang. Perekrutan tenaga kerja ilegal di Thailand, termasuk perempuan untuk prostitusi, tampaknya telah menjadi sistematis dan diperbesar secara bertahap dengan jeda waktu hanya beberapa tahun. Beberapa responden Aoyama adalah di antara pencari kerja 'ilegal' dalam periode ini yang bermigrasi melalui dilaporkan sebuah terorganisir rute perdagangan dari Thailand. Namun demikian, itu tidak sampai tahun 1989 bahwa jumlah migran Thailand, khususnya perempuan di Jepang melihat peningkatan yang fenomenal. Pada tahun 1994, perempuan Thailand yang bermigrasi ke Jepang terjadi peningkatan dengan skala besar. Namun, beberapanya kembali lagi ke Thailand. Aoyama berpendapat bahwa  bersifat umum yang dicatat antara migrasi mereka yang berbeda budaya, politik dan ekonomi kondisi, termasuk mantan pekerja seks atau perempuan Thailand di Jepang. Howard Becker memakai biculture sebagai simbol gagasan adaptasi.
Aoyama menutup tulisannya dengan merumuskan simpulan. Perdebatan tentang prostitusi yang telah membagi feminis ke dalam dua kubu dalam perkembangan terakhir. Satu sisi berpendapat bahwa prostitusi perempuan dianggap sebagai bentuk perbudakan; bahwa perempuan  terlibat sebagai hasil dari subordinasi patriarkal mengikat dan eksploitasi kapitalistik yang menjauhkan mereka dari penghasil pendapatan lainnya. Sisi lain berpendapat bahwa prostitusi harus diperlakukan sebagai suatu bentuk pekerjaan yang sah; sexwork  dianggap sebagai pilihan rasional. Dalam perdebatannya, muncullah peningkatan argumen untuk sebuah jalan tengah yang menekankan pada sifat kontingen prostitusi. Namun dalam perumusan jalan tengah juga tidak didapat sebuah kesimpulan kompleks yang disebabkan tidak adanya pertimbangan yang matang dari interaksi kompleks dari semua yang dapat dicapai dalam perdebatan. konsep muncul Social death  dalam gradasi memburuknya kondisi dan kekurangan sumber daya sosial. Ini adalah ketika hal ini terjadi bahwa sexworker beberapa langkah ke dalam situasi perbudakan. Untuk membuat kondisi yang secara bertahap mengarah pada situasi perbudakan yang lebih mudah terlihat, sangat penting untuk membatasi penggunaan konsep social death untuk situasi dan persepsi yang dipisahkan dari konsep yang lebih umum dalam perspektif subjektif perempuan. Berdasarkan akumulasi pengetahuan yang terletak dalam segmen tertentu dari industri seks lokal, didapat empat isu substantif mengapa mereka dekat dengan  jantung dari industri seks global kontemporer. Isu- isu substantif tersebut yakni : 1) dampak modernisasi terhadap kehidupan individu di bawah rekayasa sosial nasional; 2)  Gender pengertian dari harapan sosial, kewajiban dan tanggung jawab selaras dengan makna sekualitas wanita; 3) globalisasi budaya dan ekonomi dan 4) globalisasi migrasi. Empat isu tersebut diorganisir pada responden Aoyama dari sisi bagaimana tahapan karirnya, bagaimana kehidupannya dan apa efek yang timbul dalam faktor sosial sekitar mereka. Dengan cara ini akan memudahkan dalam membentuk pemahaman alasan hermeneutik dalam hasil studi ini.
***********

Tidak ada komentar:

Posting Komentar