Kamis, 10 Mei 2012

Menggabungkan Bentuk-Bentuk Kualitatif dan Kuantitatif


Paper ini berisi uraian mengenai pengkombinasian antara pendekatan penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian kuantitatif, yang meliputi definisi dari penggabungan pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif (triangulasi), bentuk-bentuk penelitian triangulasi serta tahapan-tahapan penelitian triangulasi. Adapun sumber referensi  dari penulisan paper ini adalah buku karangan  John W. Cresswell yang berjudul “Research Design Qualitative & Quantitative Approach” serta buku-buku metodologi penelitian social lainnya yang mendukung tema dalam paper ini. Paper ini jauh dari sempurna, oleh karena itu semua kritikan dan saran akan diterima penulis agar paper ini dapat menjadi lebih baik.

Menggabungkan Bentuk-Bentuk Kualitatif dan Kuantitatif

A.    Definisi Triangulasi
Ide-ide untuk menggabungkan antara pendekatan kualitatif dengan pendekatan kuantitatif telah menjadi perdebatan oleh para sarjana sejak lama. Ada beberapa pendapat para sarjana terkait dengan konsep penggabungan kedua pendekatan penelitian tersebut, diantaranya :
1.      Jick (1979)

Menurut  Jick (1979),”konsep triangulasi  berdasarkan pada asumsi bahwa  adanya penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dan tidak dapat dipisahkan dalam suatu penelitian khususnya dalam sumber-sumber data, peneliti dan metode yang seharusnya bersifat netral ketika tambahan-tambahan sumber data dan  metode-metode lain  digunakan. Untuk mencegah hal tersebut maka disarankan untuk menggabungkan metode kualitatif dengan metode kuantitatif”[1]

2.      Denzin (1978)

Menurut Denzin (1978),”konsep triangulasi adalah konsep yang dipinjam dari navigasi dan strategi militer sebagai bentuk usulan untuk penggabungan metodologi-metodologi penelitian dalam fenomena atau peristiwa-peristiwa yang sama.”[2]

3.      Grant and Fine (1992)

Menurut Grant and Fine (1992), “konsep triangulasi adalah penggabungan dari literature tambahan dari susunan penelitian secara terstruktur, observasi kuantitatif, penggabungan etnografi dan penelitian eksperimen  serta penggabungan antara penelitian survey dan prosedur kualitatif.”[3]

4.      Green, Caracelli dan Graham (1989)

Mengemukakan lima tujuan dari penggabungan metode-metode penelitian, diantaranya:
·         Triangulasi dalam pengertian klasik adalah mencari konvergensi dari hasil-hasil penelitian.
·         Pujian terhadap perbedaan dari aspek-aspek yang muncul dari fenomena atau kejadian yang mungkin muncul.
·         Mengembangkan metode pertama yang digunakan dalam serangkaian  penelitian untuk membantu menginformasikan dalam metode kedua.
·         Perkenalan gagasan-gagasan, pertentangan-pertentangan dan pemikiran-pemikiran baru yang muncul.
·         Perluasan atau pengembangan metode-metode tambahan dalam jangkauan yang luas untuk penelitian.
Ide-ide dan analisis mengenai konsep triangulasi yang sangat berkontribusi bagi penelitian adalah pemikiran-pemikiran Greene. Greene (1989) mulai memikirkan mengenai penggabungan metode kualitatif dengan metode kuantitatif sejak tahun 1980-an. Beliau mulai meninjau kembali penelitian-penelitian terdahulu, beliau tidak hanya mengidentifikasi beberapa tujuan-tujuan dari penggabungan metode saja tetapi juga menyelidiki  karakteristik-karakteristik  bentuk yang berbeda diantara model-model penggabungan metode tersebut. Identifikasi-identifikasi yang dilakukan oleh Greene (1989) meliputi, pertama; apakah metode-metode yang dipilih untuk penelitian sama atau berbeda dari bentuk lainnya, baik asumsi-asumsi, kekuatan, keterbatasan dan penyimpangan-penyimpangan?. Kedua, memeriksa apakah metode-metode yang digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berbeda?. Ketiga, melihat kedudukan dari metode apakah mempunyai kesetaraan atau ketidaksetaraan  terhadap objektivitas penelitian?. Dan yang terakhir adalah menyelidiki penerapan dalam penelitian, apakah metode-metode diterapkan secara interaktif, independen, dan berurutan?.

B.     Bentuk-Bentuk dari Penggabungan Paradigma
John W. Cresswell mengemukakan  tiga bentuk dari penggabungan,[4] yaitu :
1)      Two-Phase Design Approach
Dalam bentuk ini peneliti disarankan untuk mengatur tahap-tahap dalam penelitian kualitatif dan memisahkannya dengan tahap-tahap penelitian kuantitatif. Adapun kelebihan dari bentuk pendekatan ini adalah dua paradigma dipisahkan secara jelas, oleh karena itu peneliti dimungkinkan untuk menunjukan secara menyeluruh asumi-asumsi dari paradigma ditiap-tiap bentuknya. Namun kekurangan dari pendekatan ini adalah para pembaca tidak dapat melihat dengan jelas hubungan antara dua bentuk tersebut.

2)      The Dominant-Less Dominant Design
Dalam pendekatan ini, peneliti menunjukkan penelitian tunggal yaitu dengan paradigma yang lebih dominan dengan sebuah komponen kecil yang menggambarkan keseluruhan dari penelitian dari alternatif paradigma. Kelebihan dari pendekatan ini adalah pendekatan ini menunjukkan konsistensi dari gambaran paradigma dalam penelitian dan juga mengumpulkan keterbatasan informasi untuk diselidiki secara detail dari satu aspek penelitian. Sedangkan kekurangan dari pendekatan ini adalah kemurnian dari kualitatif dapat dilihat dalam pendekatan ini sebagai penyalahgunaan paradigma kualitatif karena asumsi utama dalam penelitian tidak berhubungan atau tidak cocok dengan prosedur pengumpulan data kualitatif.

3)      The Mixed-Methodology Design
Dalam pendekatan ini mewakili tingginya tingkatan dari penggabungan paradigma-paradigma dari bentuk-bentuk pendekatan sebelumnya. Peneliti akan menggabungkan aspek-aspek dari paradigm kualitatif dan kuantitatif, pendekatan ini juga menambah kompleksitas dari bentuk-bentuk dan penggunaan  kelebihan dari paradigma kualitatif dan kuantitatif. Kekurangannya adalah pendekatan ini memerlukan  pengetahuan yang berbelit-belit dari kedua paradigma, penyampaian dari hubungan paradigma yang mungkin belum dapat diterima oleh beberapa pembaca. Selain itu, pendekatan ini juga memerlukan peneliti untuk menyampaikan sebuah penggabungan dari paradigma-paradigma yang tidak lazim untuk banyak peneliti.

C.    Bentuk-Bentuk dan Tahapan

Tahapan-tahapan penelitian dari triangulasi adalah sebagai berikut :
·         Pendahuluan
Pendahuluan dalam penelitian kualitatif dapat ditemukan literature yang cukup untuk mendiskusikan permasalahan serta peneliti juga menyampaikan pemahaman, pengembangan teori dan lain-lain. Sedangkan pendahuluan dalam penelitian kuantitatif dapat ditemukan dasar literature yang kuat serta kemajuan dari sebuah teori.

Pendahuluan dalam two-phase design, peneliti mengenalkan tahap-tahap kualitatif dan tahap-tahap kuantitatif dalam penelitian. Sedangkan pendahuluan dalam dominant-less dominant design , peneliti menunjukkan kerangka kerja dari paradigma yang dominan dalam penelitian. Pendahuluan dalam mixed-methodology design menunjukkan konsistensi dari pendekatan dengan paradigma yang lain, namun pembaca akan menganggap bahwa ketegasan dari penelitian berdasarkan dari kedua paradigma.

·         Literatur dan Teori
Penggunaan literature dan teori harus konsisten dengan paradigma yang digunakan oleh peneliti. Literature dan teori yang digunakan dalam penelitian kualitatif memposisikan pengertian keterbatasan dimulai dari bentuk permasalahan penelitian. Bentuk literature review  dalam penelitian kualitatif adalah mengatur subtopik disekitar pertanyaan-pertanyaan dasar serta sub-subpertanyaan dalam penelitian. Oleh karena itu, dalam penelitian kualitatif, peneliti harus menggunakan pertanyaan-pertanyaan dasar dan sub-subpertanyaan sebagai sebuah kerangka kerja untuk memutuskan bagian-bagian yang sesuai untuk meninjau sebuah literature. Sedangkan dalam penelitian kuantitatif, literature dan teori digunakan secara deduktif yaitu untuk membantu membangun penelitian dan mengembangkan pertanyaan-perttanyaan penelitian.

Dalam two-phases design, literature dan teori digunakan secara induktif pada tahap kualitatif dalam penelitian dan secara deduktif pada tahap kuantitatif. Dalam dominant-less dominant design, literature dan teori menggunakan konsistensi pendekatan dengan paradigma yang dominan. Sedangkan dalam mixed-methodology design sangat sulit  dalam menggabungkan kedua paradigma untuk  menggunakan literature dan teori.


·         Pernyataan Tujuan dan Hipotesis
Pernyataan tujuan dan hipotesis dalam penelitian kualitatif dibentuk secara terbuka, deskriptif dan tanpa pengawasan. Sedangkan dalam penelitian kuantitatif  peryataan tujuan dan hipotesis diawasi serta berhubungan dengan pandangan-pandangan teoritis.

Dalam two-phase design diatur dan ditunjukkan  dua bentuk dari pernyataan tujuan dan hipotesis, dimana diterapkan  ditiap-tiap tahapan sehingga mewakili karakteristik dari paradigma-paradigma  yang digunakan dalam tahapan-tahapan tersebut. Dalam dominant-less dominant design menggunakan pernyataan tujuan dan hipotesis dalam bentuk yang dominan. Morse (1991) menyarankan metodologi triangulasi yaitu antara pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif dalam dua cara yaitu; pertama, triangulasi bersamaan adalah peneliti menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian kualitatif dan kuantitatif diwaktu yang sama dalam penelitian. Kedua, triangulasi berurutan adalah peneliti  mengatur dua tahapan dalam penelitian yaitu hasil-hasil pada tahap pertama  dan esensi dari perencanaan di tahap selanjutnya.[5]

·         Metode-Metode
Dalam penelitian kualitatif metode-metode pengumpulan data meliputi; observasi, wawancara, dokumentasi dan bahan-bahan visual. Sedangkan dalam penelitian kuantitatif, metode pengumpulan data  meliputi prosedur survey dan penelitian eksperimen.

Dalam two-phase design metode-metode serta hasil-hasil dari tahapan kualitatif dalam penelitian dilaporkan secara terpisah dari metode-metode dan hasil-hasil dari tahapan kuantitatif. Dalam dominant-less dominant design metode-metode dan hasil-hasil yang berhubungan dengan paradigma dominan yang digunakan, dan dengan bagian kecil untuk metode-metode dan hasil-hasil dari paradigma yang tidak dominan. Sedangkan dalam mixed-methodology design ditemukan sebuah penggabungan metode-metode yang menunjukkan pada pembaca dimana peneliti mengumpulkan data-data kualitatif dan kuantitatif.

Rangkuman
Penggabungan paradigmaa kualitatif dan paradigma kuantitatif telah menjadi perdebatan sejak lama. Penggabungan kedua paradigma disebut triangulasi. John W. Cresswell mengemukakan tiga bentuk dari penelitian triangulasi yaitu two-phase design, dominant-less dominant design dan mixed methodology design. Adapun tahapan-tahapan dari penelitian triangulasi yaitu penulisan pendahuluan, penggunaan literature dan teori, pernyataan tujuan dan hipotesis dan metode pengumpulan data. Meskipun begitu tahapan-tahapan penelitian di tiga bentuk penelitian trianggulasi berbeda penerapannya. Penggabungan metode-metode dari paradigma kualitatif  dan paradigma kuantitatif telah banyak berkontribusi khususnya dalam penggunaan paradigma-paradigma penelitian triangulasi. Penggabungan metode-metode juga mengakibatkan munculnya isu-isu metodologi sebagai komponen-komponen dari penelitian, apakah harus mengikuti satu paradigma saja atau juga menggunakan paradigma yang lain.

Reference
Harrison, Lisa.2007.Metodologi Penelitian Politik.Jakarta:Kencana

Idrus, Muhammad.2009.Metode Penelitian Sosial Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif Edisi Kedua.Jakarta:Erlangga
John W.Cresswell.1994.Research Design Qualitative & Quantitative Approach.California:SAGE Publications, Inc
Nasution, S.2008.Metode Research. Jakarta: Bumi Aksara



[1] John W. Cresswell “Research Design Qualitative & Quantitative Approach” (California: SAGE Publications, Inc, 1994), hlm.174.
[2] Ibid
[3] Ibid, hlm.174-175.
[4] Ibid, hlm.177-178.
[5] Ibid, hlm.182.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar